Iduladha di Gaza: Anak-Anak Terpaksa Bekerja di Tengah Puing dan Krisis Kemanusiaan

- Rabu, 27 Mei 2026 | 20:50 WIB
Iduladha di Gaza: Anak-Anak Terpaksa Bekerja di Tengah Puing dan Krisis Kemanusiaan
PARADAPOS.COM - Iduladha di Gaza tahun ini tidak dirayakan dengan sukacita dan kumpul keluarga, melainkan dengan puing-puing bangunan dan krisis kemanusiaan. Anak-anak seperti Mohammad Ashour (12) dan Wasim Aliwa terpaksa bekerja menjajakan kopi dan cokelat di jalanan Kota Gaza untuk membantu keluarganya bertahan hidup. Kenangan bermain di taman, makan di restoran, dan berlibur ke pantai kini terkubur perang, mengubah hari raya menjadi hari biasa yang penuh beban. Situasi ini diperparah dengan laporan PBB yang menyebutkan ratusan ribu anak kehilangan akses pendidikan formal akibat konflik berkepanjangan. Di Balik Senyuman yang Terkikis Di Jalan Al-Jala, pusat Kota Gaza, Mohammad Ashour berjalan tertatih. Sebuah termos kopi tergantung di bahunya, sementara tas kecil di punggungnya menjadi saksi bisu beratnya hidup di usia belia. Langkahnya pelan, sesekali berhenti menawarkan minuman hangat kepada pejalan kaki yang lalu-lalang. Suasana Iduladha yang seharusnya meriah justru terasa hampa. “Saya menjual kopi untuk menghidupi keluarga saya,” kata Mohammad dalam tayangan Metro Hari Ini Metro TV, Rabu 27 Mei 2026. Ucapannya pendek, tapi bobotnya begitu dalam. Kenangan yang Terkubur Puing Bagi Mohammad, Iduladha dulu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Ia ingat betul bagaimana keluarganya akan pergi keluar, berjalan-jalan, dan mengunjungi taman, restoran, dan pantai. Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan. “Dahulu, saat hari raya adalah hari yang penuh sukacita, kami akan pergi keluar, berjalan-jalan dan mengunjungi taman, restoran, dan pantai. Tetapi sekarang, di bawah kondisi perang, hari raya telah menjadi hari biasa seperti hari-hari lainnya,” ujarnya. Suaranya lirih, seolah menahan beban yang tak seharusnya dipikul anak seusianya. Cokelat di Tengah Kehancuran Tak hanya Mohammad, Wasim Aliwa juga merasakan pahitnya perbedaan. Anak laki-laki itu terlihat menjajakan cokelat di jalanan Gaza. Ia masih ingat saat Iduladha identik dengan baju baru dan kumpul keluarga. Sekarang, semua itu berubah drastis. “Sebelum perang, saat hari raya, kami biasa pergi membeli pakaian. Tapi sekarang, semuanya menjadi buruk,” ungkap Wasim. Kata-katanya sederhana, tapi menggambarkan realitas yang keras. Antrean Panjang di Dapur Umum Sementara itu, di sudut lain Gaza, pemandangan berbeda terlihat. Bukan daging kurban yang disiapkan, melainkan antrean panjang anak-anak di dapur umum. Mereka membawa jeriken air, berdesakan demi mendapatkan kebutuhan dasar yang semakin langka. Puing-puing rumah yang hancur menjadi latar belakang kehidupan sehari-hari mereka, seperti lukisan kelam yang tak kunjung usai. Tawa anak-anak yang dulu bergema di gang-gang kota kini berubah menjadi langkah penuh kelelahan. Iduladha di Gaza menjadi cermin betapa mahalnya arti kedamaian. Pendidikan yang Terabaikan Dampak konflik tidak hanya terasa pada aspek ekonomi, tetapi juga pendidikan. Menurut laporan PBB, ratusan ribu anak di Gaza kehilangan akses pendidikan formal. Puluhan ribu anak usia dini juga tidak dapat mengikuti pendidikan dasar akibat situasi yang tidak menentu. Sekolah-sekolah yang dulu menjadi tempat belajar kini berubah menjadi tempat pengungsian atau bahkan rata dengan tanah. Harapan di Tengah Derita Meski hidup di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, anak-anak Gaza tetap menyimpan secercah harapan. Mereka berharap suatu hari nanti Iduladha kembali dirayakan dengan damai, tanpa suara ledakan, tanpa penderitaan. Di balik setiap langkah lelah mereka, ada keyakinan bahwa kedamaian suatu saat akan tiba.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar