PARADAPOS.COM - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis, 28 Mei 2026, menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk anak-anak. Gelombang pengungsian baru pun kembali melanda wilayah tersebut, memperparah situasi kemanusiaan yang sudah rapuh. Serangan ini terjadi di tengah perayaan Iduladha, tepat sehari setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di selatan Sungai Zahrani.
Korban Jiwa dan Serangan di Tengah Perayaan
Media resmi Lebanon melaporkan bahwa enam anggota dari satu keluarga, termasuk anak-anak, tewas akibat serangan drone di jalan raya Adloun, Distrik Zahrani. Insiden nahas itu terjadi pada Kamis dini hari, saat warga tengah merayakan Iduladha. Dua orang lainnya dilaporkan tewas dalam serangan terpisah yang menyasar sebuah sepeda motor di Kota Tyre.
Tak hanya itu, serangan lain juga menghantam sebuah apartemen di sebelah timur Sidon. Otoritas setempat hingga kini belum merilis angka pasti korban jiwa dan luka-luka dari insiden tersebut, namun laporan awal menyebutkan adanya korban tambahan.
Peringatan Evakuasi dan Aktivitas Militer Israel
Sehari sebelum serangan terjadi, militer Israel telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi penduduk yang tinggal di wilayah selatan Sungai Zahrani. Israel menyatakan bahwa pihaknya akan menargetkan posisi kelompok Hizbullah yang berada di kawasan tersebut.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengungkapkan bahwa Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mencatat sekitar 670 lintasan proyektil pada Rabu. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 17 April.
“Kami kembali mendesak semua pihak untuk menghormati penghentian permusuhan dan menghentikan serangan lebih lanjut,” ujar Dujarric, dikutip dari media setempat, Jumat, 29 Mei 2026.
PBB juga mencatat adanya peningkatan signifikan aktivitas militer Israel. Selain serangan udara, terlihat pergerakan kendaraan lapis baja, operasi teknik militer, dan dugaan penyusupan darat di utara Sungai Litani. Organisasi dunia itu terus menjalin komunikasi dengan kedua belah pihak guna mendorong penurunan eskalasi dan penerapan Resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB.
Dampak Kemanusiaan yang Meluas
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan bahwa perintah evakuasi yang dikeluarkan dalam 48 jam terakhir telah berdampak langsung pada ratusan ribu warga di selatan Sungai Zahrani. Banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam kondisi darurat.
“Keluarga sekali lagi dipaksa meninggalkan rumah mereka dalam kondisi yang tidak manusiawi,” tutur Dujarric.
Situasi di lapangan masih terus berkembang. Para pengamat khawatir bahwa tanpa adanya tekanan diplomatik yang kuat, kekerasan dapat meluas lebih jauh dan memicu krisis kemanusiaan yang lebih dalam di kawasan tersebut.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Enam dari Tujuh Relawan Indonesia Misi Kemanusiaan ke Palestina Tiba di Jakarta, Satu Masih di Istanbul
Polisi Kepung Lapak Narkoba di Medan, Bandar Provokasi Massa hingga Enam Warga Diamankan
Perayaan Waisak 2026 Digelar Perdana di Bundaran HI, Simbol Toleransi di Jakarta
Perempuan Lansia di Jambi Timur Tewas Dianiaya Anak Kandung, Pelaku Diduga Alami Gangguan Jiwa