PARADAPOS.COM - Ribuan warga dari berbagai daerah hingga wisatawan mancanegara memadati kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, pada Jumat, 29 Mei 2026, untuk menyaksikan perayaan Waisak 2570 Buddhist Era yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Acara bertajuk "Glow of Peace" atau Cahaya Kedamaian ini bukan sekadar seremoni keagamaan, melainkan juga peneguhan identitas Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan toleran. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, hadir langsung dan menyampaikan pesan filosofis di balik instalasi cahaya yang menerangi bundaran tersebut.
Instalasi Cahaya yang Sarat Makna
Suasana malam di Bundaran HI berubah menjadi panggung megah dengan pertunjukan musik, seni, serta ornamen pencahayaan yang memukau. Ribuan pasang mata terpana menyaksikan permainan lampu yang menghiasi ikon ibu kota. Namun, bagi Rano Karno, keindahan visual itu hanyalah permukaan.
"Cahaya di Bundaran HI bukan hanya hiasan kota, ini adalah doa yang diterangi bersama agar Jakarta terus menjadi rumah yang damai, toleran, adil, dan menentramkan seluruh warganya," ujar Rano Karno dalam sambutannya, seperti dikutip dalam acara Selamat Pagi Indonesia pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Bang Rano itu menekankan bahwa perayaan Tri Suci Waisak mengingatkan pada jalan kebijaksanaan, welas asih, dan harmoni. Menurutnya, nilai-nilai luhur ini melampaui segala batas identitas dan menyentuh nurani setiap warga yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
"Saya berharap Glow of Peace bukan hanya memberikan pengalaman yang indah dilihat, tetapi juga dapat dirasakan. Semoga setiap cahaya yang kita saksikan malam ini, menyalakan kembali asa bahwa Jakarta dapat tumbuh sebagai kota yang aman, nyaman, penuh kasih dan menyentuh lembut setiap kita," tambahnya.
Dari Cahaya ke Aksi Nyata
Tak hanya berhenti pada pesan spiritual, Rano Karno juga mengajak para tokoh umat Buddha dan seluruh elemen masyarakat untuk memulai perubahan dari hal kecil. Ia mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah, tempat ibadah, hingga lingkungan sekitar.
Menurutnya, kebaikan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dijaga bersama. Langkah sederhana ini dinilai sebagai bentuk nyata kontribusi warga dalam membenahi Jakarta.
Dampak Ekonomi dan Sosial dari Ruang Publik Inklusif
Dari sisi pemerintahan, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) menilai pemanfaatan ruang publik untuk perayaan lintas agama memberikan dampak positif. Meskipun angka pasti perputaran uang masih memerlukan kajian lebih lanjut, antusiasme masyarakat dan aktivitas pelaku usaha ekonomi mikro di sekitar lokasi menjadi indikator bergeraknya roda ekonomi.
"Dengan adanya antusias masyarakat kemudian dengan adanya kawan-kawan yang melakukan usaha-usaha ekonomi kecil, tentu itu bagi kita adalah bukti perputaran ekonomi Jakarta bergerak," ungkap Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda DKI, Suharini Eliawati.
Perayaan Waisak di ruang terbuka ini menambah daftar panjang kegiatan lintas agama yang difasilitasi Pemprov DKI, menyusul perayaan Natal, malam takbiran, hingga Nyepi yang telah digelar sebelumnya. Hal ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah dalam menjaga iklim toleransi di Ibu Kota.
Perayaan Waisak 2026 di Bundaran HI ini lebih dari sekadar seremoni keagamaan. Perayaan ini membawa pesan bahwa Jakarta adalah kota global yang harmonis, toleran, dan terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kemendag: Harga Referensi dan Patokan Ekspor Kakao Melonjak Akibat Penutupan Selat Hormuz
PDIP Bentuk Tim Evaluasi Internal untuk Persiapan Pemilu 2029
Polresta Banda Aceh Tetapkan Dua Mahasiswa sebagai Tersangka Pembakaran dan Perusakan Fasilitas USK
Peneliti BRIN Buka Suara, Klaim Identitasnya Dicatut dalam Publikasi Riset Fiktif