Pemerintah Serap Telur Peternak untuk Program MBG dan Bantuan Pangan Stabilkan Harga

- Kamis, 04 Juni 2026 | 23:25 WIB
Pemerintah Serap Telur Peternak untuk Program MBG dan Bantuan Pangan Stabilkan Harga
PARADAPOS.COM - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langkah strategis untuk menstabilkan harga telur yang tengah tertekan akibat produksi melimpah. Langkah ini tidak hanya bertujuan menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga melindungi kesejahteraan peternak yang selama ini menanggung beban biaya produksi. Salah satu jurus utamanya adalah menyerap hasil ternak untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Bantuan Pangan.

Penyerapan Telur Melalui Program MBG

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengoptimalkan penyerapan telur. Fokus utama adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah-daerah yang mengalami kelebihan pasokan. "Kemarin ada beberapa daerah ya, terutama di Jawa Timur, di Blitar itu harga telur kan turun. Sehingga kita sudah berkoordinasi dengan BGN dan dengan Kepala BGN yang baru, SPPG di daerah tersebut diwajibkan untuk menyerap telur. Dengan begitu, harga bisa mendekati atau sesuai HET, sehingga para peternak akan merasakan harga yang bagus," jelas Budi di kantornya, Kamis, 4 Juni 2026. Menurut Budi, tekanan harga yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh produksi yang melimpah, bukan karena lesunya permintaan. Pemerintah berharap intervensi melalui SPPG mampu mengembalikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan di pasar.

Bantuan Pangan Sebagai Jaring Pengaman

Selain program MBG, pemerintah juga menyiapkan program Bantuan Pangan sebagai jaring pengaman. Jika harga telur terus tertekan, komoditas ini bisa menjadi alternatif pengganti Minyakita atau beras dalam paket bantuan. "Bantuan pangan nanti akan menyesuaikan juga. Jadi misalnya ketika harga telur itu sedang turun, maka bantuan pangan tidak mesti Minyakita atau beras, tapi bisa juga telur," ujar Budi. Ia menambahkan, kebijakan ini dirancang agar hasil produksi peternak tetap terserap saat terjadi surplus. Saat ini, produksi telur nasional tercatat melebihi kebutuhan hingga 12 persen. "Jadi ini dalam rangka menyerap produk-produk makanan kita atau produk bahan pokok kita, yang memang produksinya sekarang tampak (melimpah). Produksi telur itu sekarang surplus 12 persen. Sehingga (penyerapan) ini akan bagus buat peternak," tuturnya.

Perbaiki Tata Kelola Distribusi

Budi menilai akar permasalahan bukan pada minimnya permintaan, melainkan pada sistem distribusi dan penyerapan yang belum optimal. Dengan manajemen yang lebih baik, produksi yang melimpah bisa tersalurkan secara maksimal. "Dan penyerapannya sebenarnya ada, tinggal kita mengatur manajemennya untuk SPPG dengan baik, sehingga telur bisa terserap dengan baik," katanya. Pemerintah tidak hanya fokus pada telur. Skema serupa juga akan diterapkan pada komoditas lain yang mengalami penurunan harga, seperti daging ayam. Langkah ini diharapkan memberikan kepastian pasar bagi peternak dan pelaku usaha di tengah kondisi produksi yang sedang berlimpah. "Tidak hanya telur. Jadi kebutuhan bahan pokok seperti misalnya ayam, daging ayam apabila harganya turun di bawah (standar) maka BGN juga akan kita minta untuk menyerapnya di SPPG," jelas Budi. Sebelumnya, situasi di lapangan cukup memprihatinkan. Ratusan peternak ayam petelur di Kabupaten Blitar menggelar aksi pembagian telur gratis hingga satu juta butir. Aksi ini merupakan bentuk keprihatinan imbas harga yang anjlok. Saat ini, harga telur di tingkat peternak berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram (kg), jauh di bawah biaya produksi yang mencapai Rp24 ribu per kg.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar