PARADAPOS.COM - Wabah Ebola yang pertama kali terdeteksi di Kongo terus meluas dan telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan global sejak Mei lalu. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Afrika (Africa CDC) kini mengidentifikasi sepuluh negara dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap penyebaran virus ini, terutama karena mobilitas penduduk lintas batas dan aktivitas perdagangan yang sulit dikendalikan. Jika situasi ini tidak terkendali, para ahli memperingatkan potensi penularan bisa merambah ke luar benua Afrika.
Negara-Negara dengan Risiko Tinggi
Berdasarkan data dari Africa CDC, negara-negara yang dinilai paling rentan terhadap paparan Ebola meliputi Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Kenya, Rwanda, Sudan Selatan, Tanzania, dan Zambia. Kerentanan ini bukan sekadar prediksi, melainkan hasil pemetaan pola pergerakan manusia dan rantai pasok yang kerap menjadi jalur penyebaran virus.
Mengenal Lebih Dekat Virus Ebola
Penyakit Virus Ebola (EVD), yang juga dikenal sebagai demam berdarah Ebola, pertama kali diidentifikasi di Afrika Tengah. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa virus ini kini telah menjadi wabah di sejumlah negara seperti Uganda, Sierra Leone, dan Kongo. Penularan utama terjadi melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi, terutama monyet dan kelelawar buah.
Menariknya, kelelawar buah dapat menjadi inang tanpa menunjukkan gejala sakit, namun mampu menularkan virus ke manusia. Dari satu pasien, penyakit ini kemudian menyebar ke orang-orang di sekitarnya melalui kontak erat. Masa inkubasi virus berkisar antara 2 hingga 21 hari, dengan rentang paling umum antara 4 hingga 10 hari. Sebuah fakta yang jarang diketahui, pria yang dinyatakan sembuh dari Ebola masih dapat menularkan virus melalui sperma hingga hampir dua bulan setelah pemulihan.
Untuk memastikan diagnosis, tenaga medis biasanya melakukan uji sampel darah untuk mendeteksi antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri. Hingga saat ini, belum ada pengobatan khusus yang ditemukan. Penanganan utama masih bersifat suportif, seperti pemberian terapi rehidrasi oral atau cairan intravena. Tingkat kematian penyakit ini tergolong tinggi, seringkali mencapai 50 hingga 90 persen dari mereka yang terinfeksi.
Langkah Pencegahan yang Perlu Diketahui
Upaya pencegahan difokuskan pada pemutusan rantai penularan dari hewan ke manusia. Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain:
- Memeriksa hewan seperti monyet dan babi terhadap infeksi, serta memusnahkan hewan yang terpapar virus.
- Memastikan daging dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
- Menerapkan kebiasaan mencuci tangan dengan benar, terutama saat berada di dekat penderita.
- Menangani sampel cairan dan jaringan tubuh pasien dengan prosedur ketat dan sangat hati-hati.
Mengenali Tanda dan Gejala
Gejala Ebola seringkali muncul secara tiba-tiba dan mirip dengan influenza. Penderita umumnya merasakan kelemahan ekstrem, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, nyeri otot, dan nyeri sendi. Demam biasanya melonjak di atas 38,3 derajat Celcius, disertai sakit tenggorokan.
Pada tahap lanjut, gejala berkembang menjadi muntah-muntah, diare, dan sakit perut. Sekitar separuh kasus menunjukkan ruam kulit yang muncul antara hari kelima hingga ketujuh setelah gejala pertama. Kondisi pernapasan memburuk, dada terasa sakit, dan terjadi pembengkakan (edema) serta penurunan kesadaran.
Yang paling mengkhawatirkan adalah gejala perdarahan, baik internal maupun eksternal, yang biasanya terjadi 5 hingga 7 hari setelah gejala awal. Penderita Ebola mengalami kesulitan pembekuan darah, sehingga rentan mengalami perdarahan dari selaput mulut, hidung, tenggorokan, hingga bekas suntikan. Akibatnya, penderita bisa muntah darah, batuk darah, atau buang air besar bercampur darah. Mata pun bisa tampak merah karena perdarahan, meskipun perdarahan hebat jarang terjadi dan biasanya terlokalisasi di saluran pencernaan.
Risiko kematian pada penderita Ebola terutama disebabkan oleh syok hipovolemik akibat kekurangan cairan dan perdarahan hebat yang tidak terkendali. Kedua kondisi ini memerlukan penanganan medis darurat yang cepat dan tepat.
Artikel Terkait
Istana Bantah Isu Menteri Keuangan Purbaya Mundur, Tegaskan Tidak Ada Reshuffle Kabinet
Gunung Lewotobi Laki-Laki Erupsi, Luncurkan Abu Vulkanik Setinggi 1.500 Meter
Rupiah Tembus Rp18.039, Rocky Gerung Sorot Chatib Basri sebagai Kandidat Ideal Gantikan Sri Mulyani
Menag: Pesantren Harus Cetak Pemimpin Kharismatik Sekaligus Manajer Profesional