Pemprov DKI dan BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini untuk Prediksi Polusi Udara Jakarta

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:50 WIB
Pemprov DKI dan BMKG Siapkan Sistem Peringatan Dini untuk Prediksi Polusi Udara Jakarta
PARADAPOS.COM - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara, atau Early Warning System (EWS), guna memprediksi polusi udara secara lebih akurat. Langkah ini diambil sebagai instrumen pencegahan dampak pencemaran terhadap warga Jakarta.

EWS sebagai Instrumen Pencegahan Polusi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menyatakan bahwa sistem ini dirancang untuk memberikan gambaran potensi kondisi kualitas udara beberapa hari ke depan. Dengan informasi tersebut, pemerintah dapat memperkuat langkah mitigasi yang diperlukan. "EWS kualitas udara ini kami siapkan sebagai instrumen pencegahan," ujar Dudi dalam keterangannya, Sabtu, 6 Juni 2026. Pengembangan sistem ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemprov DKI dalam mengurangi dampak pencemaran udara sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dudi menambahkan, masyarakat pun memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini. "Masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan aktivitas dan melakukan langkah perlindungan diri sejak dini," jelasnya.

Manfaat bagi Kelompok Rentan

Menurut Dudi, keberadaan sistem peringatan dini ini memberikan manfaat besar, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak pencemaran udara. Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan seperti asma dan gangguan paru-paru lainnya. Ke depannya, ia berharap EWS kualitas udara dapat menjadi sumber informasi utama bagi masyarakat Jakarta dalam memantau kondisi udara secara real-time maupun prediktif.

Teknologi SILAM Urban dari BMKG

Pengembangan sistem prakiraan kualitas udara ini dilakukan BMKG melalui pemanfaatan teknologi pemodelan kualitas udara berbasis spasial. Teknologi tersebut dikenal dengan nama Sistem Informasi dan Layanan Mahasiswa (SILAM) Urban. Teknologi ini memungkinkan pemetaan kondisi polusi udara secara lebih rinci dengan cakupan seluruh wilayah Jakarta yang terdiri dari 44 kecamatan. Bahkan, sistem tersebut mampu memberikan informasi hingga radius satu kilometer, sehingga data yang disajikan lebih spesifik dan relevan bagi masyarakat. Koordinator Sub Bidang Informatif Gas Rumah Kaca BMKG, Albert C Nahas, menjelaskan bahwa informasi yang disediakan melalui SILAM Urban tidak hanya terbatas pada prakiraan kualitas udara secara umum. Informasi yang dihasilkan mencakup enam jenis polutan utama, termasuk PM2.5. Melalui SILAM Urban, masyarakat dapat melihat peta kualitas udara per kecamatan di Jakarta, tren Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) hingga tiga hari ke depan, dan kondisi meteorologi. "Termasuk peringkat kecamatan berdasarkan kualitas udara, hingga grafik konsentrasi polutan yang memudahkan pemantauan kualitas udara sehari-hari," tutur Albert.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar