Pemerintah Targetkan Biaya Logistik Nasional Turun ke 12,5 Persen dari PDB pada 2029

- Senin, 08 Juni 2026 | 03:25 WIB
Pemerintah Targetkan Biaya Logistik Nasional Turun ke 12,5 Persen dari PDB pada 2029
PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengumumkan target ambisius pemerintah untuk menekan biaya logistik nasional hingga 12,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2029. Target ini diungkapkan di Jakarta, Senin, sebagai bagian dari strategi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan efisiensi ekonomi dan daya saing nasional. Langkah ini dinilai krusial bagi Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.380 pulau dan populasi sekitar 280 juta jiwa, di mana transportasi menjadi urat nadi penghubung antarwilayah.

Efisiensi Logistik dan Konektivitas Nasional

Pemerintah menekankan bahwa upaya penurunan biaya logistik tidak hanya berhenti pada angka semata. Lebih dari itu, kebijakan ini dirancang untuk memperkuat konektivitas antardaerah, mendorong pertumbuhan investasi, dan membuka lapangan kerja baru. Distribusi barang dan layanan publik yang lebih merata juga menjadi sasaran utama. “Tujuan kami sederhana, bagaimana biaya logistik semakin efisien, konektivitas antardaerah semakin kuat, investasi dan lapangan kerja semakin tumbuh, serta distribusi barang dan layanan publik dapat menjangkau masyarakat dengan lebih baik,” ujar AHY dalam keterangannya. Untuk mencapai target tersebut, Indonesia gencar mendorong kerja sama internasional. Fokusnya meliputi pengembangan sumber daya manusia, transfer pengetahuan dan teknologi, serta penguatan kapasitas industri transportasi nasional. Langkah ini dianggap penting agar sektor logistik dalam negeri lebih tangguh menghadapi dinamika global.

Strategi Konektivitas Negara Kepulauan

Di tengah gejolak ekonomi global, AHY menambahkan bahwa Indonesia perlu terus membuka ruang kolaborasi. Menurutnya, yang terpenting bukan hanya siapa mitra kerja samanya, melainkan bagaimana setiap kerja sama dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menegaskan, bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, transportasi bukan sekadar sarana mobilitas, melainkan urat nadi yang menghubungkan masyarakat, memperkuat persatuan, serta membuka akses terhadap berbagai peluang ekonomi. “Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.380 pulau dan populasi sekitar 280 juta jiwa. Bagi kami, transportasi adalah urat nadi yang mempersatukan bangsa dan menghubungkan seluruh wilayah Nusantara,” jelas AHY. Lebih lanjut, AHY menegaskan bahwa pembangunan konektivitas di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan jalan tol. Pendekatan yang lebih komprehensif diperlukan, dengan memperkuat transportasi laut dan udara. Menurutnya, strategi pembangunan infrastruktur Indonesia tidak dapat disamakan dengan negara-negara kontinental yang bertumpu pada jaringan darat.

Integrasi Transportasi sebagai Kunci

Penguatan konektivitas antarpulau menjadi kunci untuk mendorong pemerataan pembangunan sekaligus menekan biaya logistik nasional. Tanpa sistem transportasi yang terintegrasi, distribusi barang dan jasa disebutnya akan tetap mahal dan menghambat pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah. Pemerintah optimistis, dengan strategi yang tepat, target penurunan biaya logistik pada 2029 dapat tercapai, membawa Indonesia menuju efisiensi ekonomi yang lebih baik.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar