Menteri HAM Dorong Pembangunan HAM Berbasis Pancasila, Libatkan Generasi Muda sebagai Agen Perubahan

- Jumat, 12 Juni 2026 | 00:25 WIB
Menteri HAM Dorong Pembangunan HAM Berbasis Pancasila, Libatkan Generasi Muda sebagai Agen Perubahan
PARADAPOS.COM - Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mendorong pembangunan HAM di Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Hal ini disampaikannya dalam Festival HAM 2026 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, pada Kamis (11/6). Pigai menekankan bahwa pembangunan HAM harus menjamin penghormatan terhadap setiap individu tanpa diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, budaya, atau identitas lainnya. Ia juga menyoroti pentingnya peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam proses ini.

Tiga Pilar untuk Generasi Muda

Menurut Pigai, pembangunan HAM tidak hanya soal melindungi hak-hak dasar warga negara. Lebih dari itu, diperlukan keterlibatan aktif generasi muda. Mereka harus diperkuat kapasitasnya, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. “Untuk menjadi contoh yang berdampak, generasi muda dan seluruh elemen bangsa harus menguasai tiga pilar utama, yaitu knowledge (pengetahuan), skill (keterampilan), dan attitude (sikap). Tunjukkan jati diri Anda yang sebenarnya dengan kapasitas dan kemampuan objektif yang kalian miliki,” ujar Pigai dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Konsep HAM yang Terus Berkembang

Dalam kesempatan yang sama, Pigai menjelaskan bahwa konsep HAM tidaklah statis. Ia terus berkembang seiring perubahan zaman. Cakupan HAM saat ini tidak lagi terbatas pada hak sipil dan politik atau hak ekonomi, sosial, dan budaya. Kini, pembangunan HAM juga mencakup hak atas pembangunan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Pendekatan pembangunan berbasis HAM, lanjutnya, harus menjadi bagian integral dari upaya memperkuat keadilan sosial. Tujuannya adalah memastikan seluruh kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang setara dalam proses pembangunan.

Apresiasi untuk Festival HAM

Pigai memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival HAM. Menurutnya, acara ini menjadi ruang edukasi publik yang efektif. Festival ini dinilai mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai HAM dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Suasana di kampus UKSW terlihat semarak dengan diskusi dan kegiatan yang melibatkan banyak peserta. Festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi wadah interaksi antara akademisi, mahasiswa, dan pemerintah.

Komitmen UKSW dalam Keberagaman

Sementara itu, Rektor UKSW Intiyas Utami menyambut baik tema festival, yaitu “Pembangunan HAM dalam Jiwa Pancasila”. Ia menegaskan bahwa tema tersebut sejalan dengan komitmen kampusnya. “Penyelenggaraan Festival HAM dengan tema ini merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan panjang kampus kami yang kini telah berusia 70 tahun. Sejak awal berdiri, UKSW tetap konsisten menyuarakan dan menegakkan HAM sebagai perwujudan nilai-nilai luhur Pancasila,” tutur Intiyas. Ia menambahkan bahwa UKSW akan terus mengembangkan lingkungan akademik yang menghargai keberagaman. Tujuannya adalah membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Rangkaian Acara Festival

Festival HAM 2026 tidak hanya berisi pidato dan sambutan. Acara ini juga diisi dengan diskusi ilmiah, edukasi hukum dan HAM, serta penguatan kolaborasi antara Kementerian HAM dan perguruan tinggi. Semua kegiatan ini dirancang untuk mendorong pembangunan yang inklusif dan berbasis penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar