PARADAPOS.COM - Tim peneliti dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, berhasil menyulap rumus-rumus matematika yang rumit menjadi motif batik kontemporer yang estetis dan bernilai edukatif. Inovasi yang diberi nama Batima (Batik Inovasi Matematika) ini dipelopori oleh Guru Besar Fakultas Sains dan Matematika (FSM) UKSW, Hanna Arini Parhusip, bersama Hindriyanto Dwi Purnomo, Didit Budi Nugroho, dan almarhum Istiarsi Saptuti Sri Kawuryan. Sejak 2016, riset yang didanai hibah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi ini telah menghasilkan setidaknya 12 motif yang terdaftar hak cipta, membuktikan bahwa matematika tidak melulu soal angka di papan tulis, melainkan juga bisa hadir dalam helaian kain batik yang indah.
Mengubah Persepsi Melalui Etnomatematika
Gagasan awal Batima lahir dari keprihatinan para akademisi FSM UKSW terhadap stigma negatif masyarakat terhadap matematika. Ilmu eksakta ini kerap dianggap sulit, menakutkan, dan tidak menarik. Persepsi semacam itu, menurut para peneliti, menciptakan hambatan psikologis yang mengalihkan minat generasi muda dari dunia sains.
Untuk mengatasi hal tersebut, tim peneliti mengadopsi pendekatan etnomatematika, yaitu menjembatani konsep abstrak matematika dengan budaya lokal yang akrab di masyarakat. Hasilnya, rumus-rumus yang tadinya dingin dan kaku menjelma menjadi pola-pola visual yang hidup di atas kain.
"Matematika itu dianggap sulit dan tidak menarik oleh orang umum. Untuk memberikan motivasi bagi masyarakat, matematika perlu dibedakan dalam bentuk obyek yang mudah dilihat dan digunakan oleh masyarakat umum," ujar Hanna, akhir Mei 2026 lalu.
Lebih dari sekadar perpaduan dua disiplin ilmu, Hanna menegaskan bahwa esensi Batima adalah transformasi konseptual. Pengetahuan yang sudah ada sejak lama diberi napas baru melalui medium budaya. "Kami menyebutnya inovasi karena kami menjadikan formula yang sudah ada sekian lama dan budaya yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru," tuturnya.
Dari Rumus Abstrak ke Pola Visual yang Dinamis
Proses penciptaan Batima berbeda dengan batik fraktal. Jika batik fraktal mengandalkan konsep perulangan geometris mandiri (self-similarity), Batima menggunakan pendekatan yang lebih kompleks dan terstruktur. Perjalanan dari rumus menjadi kain batik dimulai di laboratorium riset UKSW melalui serangkaian tahapan ilmiah yang presisi.
Tahap pertama adalah pemilihan formula matematika spesifik. Tim peneliti memilih persamaan parametrik dua dimensi yang dimodifikasi menjadi tiga dimensi, kurva aljabar, atau persamaan permukaan matematis lainnya. Setiap formula dipilih bukan hanya karena keindahan matematisnya, tetapi juga potensi estetika visualnya.
Selanjutnya, formula tersebut divisualisasikan menggunakan perangkat lunak Surfer. Software ini mampu mengubah persamaan permukaan yang kompleks menjadi obyek visual tiga dimensi yang estetis. "Hasil rendering ini bukan hanya visualisasi akademis, tetapi juga inspirasi artistik yang akan ditransformasi lebih lanjut," jelas Hanna.
Tahap paling krusial adalah transformasi dan penyusunan pola. Obyek visual tiga dimensi hasil Surfer tidak langsung dicetak ke kain. Tim desainer melakukan dekonstruksi visual: menganalisis struktur geometris, mengidentifikasi elemen kunci, lalu merekonstruksinya agar sesuai dengan estetika batik tradisional. Proses ini memastikan motif yang dihasilkan tetap mempertahankan karakter batik Indonesia sambil mengekspresikan keindahan formula matematika.
Setelah pola digital matang, motif diaplikasikan ke kain melalui tiga teknik produksi: batik tulis dengan canting dan malam, batik cap menggunakan stempel tembaga, atau batik printing untuk produksi massal. Tahap terakhir adalah pewarnaan (dyeing) dan finishing yang dikerjakan berkolaborasi dengan perajin batik tradisional, seperti Batik Tumpengan di Salatiga, untuk memastikan standar kualitas pasar yang tinggi.
Dua Belas Motif, Dua Belas Cerita Matematis
Hingga kini, penelitian Batima telah melahirkan sedikitnya 12 motif yang telah terdaftar hak cipta. Setiap motif merepresentasikan variasi formula matematis yang unik, dengan nama yang mencerminkan karakteristik visual dan matematisnya. Misalnya, motif Saroja-Math menampilkan kelopak bunga saroja berbasis modifikasi kurva parametrik, sementara motif Marabunta-Math menghadirkan pola menyerupai koloni semut marabunta dari persamaan permukaan aljabar.
Ada pula motif Pseudo Infinity yang memvisualisasikan konsep ketakterhinggaan semu yang dinamis, dan motif DB-HEXAGON dengan struktur heksagonal ganda yang melambangkan keseimbangan matematis. Motif Batima Trumpet Family v2 merupakan modifikasi persamaan corong terompet dalam proyeksi tiga dimensi.
Agar inovasi ini tidak berhenti sebagai arsip penelitian, UKSW menjalin jejaring mitra produksi. Di Salatiga, kolaborasi dengan Batik Tumpengan difokuskan pada proses produksi batik tulis dan cap. Arvidra Batik berkontribusi dalam eksplorasi motif kontemporer yang tetap tradisional. Ekspansi pasar nasional diperkuat melalui kerja sama dengan Batik Avigo di sentra batik Laweyan, Solo, sementara Yetty Arum dari Purwokerto mentransformasi motif Batima menjadi produk busana dan kriya yang modis.
Diversifikasi produk juga menyasar sektor non-kain. Bersama tempat wisata kuliner Bumi Kayom, motif Batima diaplikasikan pada berbagai suvenir. Aspek pengemasan dan pemasaran kreatif didukung oleh Valhalla, Salatiga, agar lebih diterima segmen pasar modern dan generasi muda. "Sinergi antara perguruan tinggi dan pelaku industri kreatif ini memastikan bahwa inovasi tidak berhenti pada tahap desain, tetapi berlanjut hingga produksi, komersialisasi, dan keberlanjutan usaha," papar Hanna.
Menjembatani Sains dan Budaya untuk Generasi Muda
Di balik potensi komersialnya, fungsi utama Batima tetaplah sebagai media edukasi matematika yang kontekstual. Dengan melihat dan menyentuh motif batik, para siswa tidak lagi sekadar menghafal rumus di atas kertas. Mereka dapat mengapresiasi keindahan geometri yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Matematika pun tidak lagi abstrak dan menakutkan, melainkan konkret dan indah.
Dekan FSM UKSW, Wahyu Hari Kristiyanto, menegaskan bahwa Batima adalah wujud komitmen fakultas dalam berinovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan tema Dies Natalis ke-34 FSM UKSW, "Ber-i-man: Berinovasi untuk Kemanusiaan".
"Batima adalah salah satu karya inovasi sains dan matematika. Karya visualisasi dari indahnya simulasi persamaan matematika yang penuh makna ini, mampu membumikan matematika yang umumnya menjadi momok bagi sebagian siswa menjadi daya tarik yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara langsung," kata Wahyu.
Ia menambahkan, motif Batima tidak hanya menambah kekayaan dan inspirasi kreasi bagi perajin batik, tetapi juga menghadirkan kreasi batik modern yang dapat dikenakan kaum muda dan semua kalangan. Inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan minat pelajar dalam belajar matematika dan sains, yang ketersediaannya sangat diperlukan Indonesia ke depan untuk menjawab kebutuhan akan generasi penerus yang mampu mengawal perkembangan bangsa di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
Meskipun unit usaha spin-off kampus, CV Garisma, sempat dinonaktifkan pada tahun 2025 karena kendala regenerasi pengelola dari kalangan mahasiswa, warisan intelektual dan ekosistem kolaborasi Batima terus diharapkan berkembang. Karya penelitian FSM UKSW ini setidaknya menjadi bukti nyata bahwa sains dan seni tidak seharusnya berada di kutub yang berseberangan. Di atas selembar kain Batima, rumus-rumus matematika tidak lagi dingin dan kaku.
Artikel Terkait
Ustaz Jojo Ajak Masyarakat Jadikan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah sebagai Momentum Refleksi Diri dan Perbaikan Akhlak
Haris Rusly Moti: Narasi Indonesia Gelap dan Kabur dari Indonesia Anomali dalam Tradisi Gerakan Sosial
Menjelang 1 Muharram 1448 H, Umat Muslim Saling Bertukar Ucapan Tahun Baru Islam
Operasi Gabungan Gagalkan Penyelundupan 100 Satwa Dilindungi Asal Papua di Tanjung Priok, Dua Oknum Aparat Diamankan