PARADAPOS.COM - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Minggu malam waktu setempat, setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman serangan lanjutan terhadap Iran di tengah proses negosiasi damai yang masih berlangsung. Berdasarkan data yang dihimpun, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,6 persen ke level 7.523,50, sementara Nasdaq 100 terkoreksi 0,1 persen ke 30.410,0, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,37 persen ke 51.814,0. Pelemahan ini membalikkan optimisme pasar yang sempat terbangun pada akhir pekan lalu.
Ancaman Trump dan Respons Iran
Pada hari Minggu, Trump mengeluarkan pernyataan yang mengancam akan melancarkan serangan ke Iran jika Teheran tidak menghentikan dukungannya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Kelompok tersebut saat ini masih terlibat konflik dengan Israel di wilayah Lebanon Selatan, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam perundingan damai.
Pernyataan kontroversial itu muncul tepat ketika pejabat AS dan Iran tengah menggelar pembicaraan di Swiss untuk membahas kerangka kesepakatan penghentian perang. Namun, situasi berubah drastis setelah pernyataan Trump tersebut.
"Delegasi Iran menolak kembali ke pembicaraan empat pihak," demikian laporan Kantor Berita Tasnim News Agency. Meski demikian, komunikasi masih berlangsung melalui mediator dari Pakistan dan Qatar.
Selat Hormuz Kembali Jadi Sorotan
Pekan lalu, AS dan Iran sebenarnya telah menyepakati nota kesepahaman berisi 14 poin untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, isu Lebanon masih menjadi titik krusial yang belum terselesaikan. Israel menegaskan operasi militer terhadap target Hizbullah di Lebanon Selatan tetap berlanjut, sementara Iran menuding AS dan Israel telah melanggar kesepakatan terkait serangan ke Lebanon.
Laporan akhir pekan juga menyebut Teheran kembali menutup Selat Hormuz setelah sebelumnya sempat membuka jalur pelayaran terbatas. Sinyal yang bertolak belakang dari kedua negara ini memperlihatkan rapuhnya nota kesepahaman tersebut, sekaligus memunculkan keraguan atas peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih komprehensif.
AS dan Iran sebelumnya berkomitmen melanjutkan perundingan selama 60 hari guna membahas program nuklir Teheran. Namun, ketegangan di kawasan Timur Tengah masih tetap tinggi dan sulit diprediksi.
Wall Street Ditopang Saham Teknologi
Sebelum tekanan geopolitik meningkat, Wall Street menutup perdagangan Jumat dengan penguatan yang cukup solid. Indeks S&P 500 menguat 0,55 persen, Nasdaq Composite naik 1,9 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,1 persen. Ketiga indeks tersebut ditutup mendekati level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Optimisme pasar saat itu masih bertumpu pada prospek jangka panjang sektor kecerdasan buatan (AI) yang dinilai dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan perusahaan teknologi. Saham-saham produsen chip menjadi motor penggerak utama reli tersebut.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor pekan ini juga tertuju pada sejumlah data ekonomi AS. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) periode Mei dan revisi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan. Di akhir pekan, pasar juga akan mencermati data Personal Consumption Expenditures (PCE) Mei, yang menjadi indikator inflasi utama acuan Federal Reserve. Rilis data tersebut dinilai penting untuk membaca arah inflasi dan potensi kebijakan suku bunga bank sentral AS dalam waktu dekat.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Sekda DKI: Antusiasme 1,5 Juta Pengunjung PRJ 2026 Bukti Ekonomi Jakarta Sehat
Roy Suryo dan Dokter Tifa Resmi Ditahan di Polda Metro Jaya Usai Perawatan Intensif
Persib Bandung Resmi Berpisah dengan Federico Barba, Bek Kunci di Balik Gelar Juara BRI Super League
Pemkab Sigi Ajukan 210 Hunian Sementara untuk Korban Gempa Rusak Berat