PARADAPOS.COM - Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Senin di tengah meningkatnya ketidakpastian atas implementasi kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran. Sentimen pasar berubah setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan kembali melanjutkan operasi militer di Timur Tengah, sementara Teheran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz. Akibatnya, mata uang safe haven seperti dolar AS mendapat tekanan permintaan yang lebih tinggi, sementara mata uang utama lainnya seperti pound sterling, euro, dan dolar Australia justru tertekan.
Ketegangan Timur Tengah Dorong Permintaan Safe Haven
Meski ketegangan meningkat, perundingan damai antara AS dan Iran masih berlanjut memasuki hari kedua di Swiss. Negosiasi tersebut mengacu pada nota kesepahaman yang disepakati pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata sejak April selama 60 hari ke depan. Namun, ancaman Trump dan langkah Teheran menutup kembali Selat Hormuz membuat pasar waspada.
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal yang melintasi jalur tersebut turun tajam pada Minggu, setelah Iran mengumumkan penutupan kembali selat itu. Kondisi ini mendorong harga minyak mentah Brent naik 1,30 persen menjadi USD81,62 per barel. Kenaikan harga minyak ini ikut memperkuat ekspektasi inflasi global, yang pada akhirnya mendukung penguatan dolar AS sebagai aset aman.
Pound Sterling Tertekan Dinamika Politik Inggris
Mengutip data pasar, pound sterling bergerak melemah setelah pasar mencermati dinamika politik di Inggris. Nilai tukar pound turun 0,24 persen ke level USD1,32055. Sementara itu, euro melemah 0,1 persen menjadi USD1,1462. Dolar Australia turun 0,19 persen ke USD0,70035, sedangkan dolar Selandia Baru diperdagangkan di level USD0,573.
Analis Commonwealth Bank of Australia menilai pasar kini akan mencermati arah kebijakan fiskal yang mungkin diusung Burnham. Mereka memperingatkan potensi pelonggaran aturan fiskal dapat memicu tekanan di pasar obligasi Inggris dan memperlemah pound lebih lanjut.
"Pelonggaran aturan fiskal berpotensi mendapat respons negatif dari pasar obligasi Inggris dan menekan pound sterling," tulis analis CBA.
Imbal Hasil Obligasi AS Menguat
Tekanan di pasar obligasi pemerintah AS juga berlanjut pada awal pekan. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun naik ke level 4,2276 persen, tertinggi sejak awal 2025. Angka ini mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.
Pelaku pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 43 basis poin sepanjang tahun ini, dengan peluang kenaikan 25 basis poin pada September sudah sepenuhnya diperhitungkan pasar. Ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama menjadi faktor utama yang menopang penguatan dolar AS di pasar global.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Bezzecchi Tetap Puncaki Klasemen MotoGP 2026 Meski Absen di GP Ceko, Martin Hanya Terpaut 8 Poin
BNN Luncurkan Tema dan Logo HANI 2026, Usung Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas 2045
Tiga Terdakwa Suap Impor di Bea Cukai Dituntut Hukuman Penjara oleh Jaksa KPK
Gunung Semeru Erupsi Dua Kali Pagi Ini, Kolom Abu Capai 1.000 Meter di Atas Puncak