Mantan Menlu Hassan Wirajuda Ingatkan Indonesia Cermati Dampak Perundingan AS-Iran terhadap Harga Minyak dan Stabilitas Energi Global

- Senin, 22 Juni 2026 | 10:25 WIB
Mantan Menlu Hassan Wirajuda Ingatkan Indonesia Cermati Dampak Perundingan AS-Iran terhadap Harga Minyak dan Stabilitas Energi Global
PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Indonesia periode 2001-2009, Hassan Wirajuda, menilai Indonesia perlu mencermati secara saksama perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menurutnya, hasil perundingan ini akan berdampak langsung pada perekonomian nasional dan stabilitas global, terutama terkait pasokan energi dunia. Ia menekankan bahwa implementasi kesepakatan kedua negara menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar energi internasional ke depan.

Perundingan yang Perlu Dicermati

Hassan menyampaikan pandangannya usai menghadiri Jakarta Forum 2026 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin, 22 Juni 2026. Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh lengah terhadap dinamika geopolitik yang sedang berlangsung. "Kita perlu mengikuti dari dekat perundingan ini untuk membaca apa implikasinya bagi kita dan dunia," ujarnya kepada awak media. Ia mencontohkan kesepakatan antara Iran dan AS untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai salah satu perkembangan yang perlu terus dipantau. Menurut Hassan, kawasan tersebut memiliki peran strategis bagi perdagangan energi global. Setiap perubahan kondisi keamanan di sana akan berdampak langsung terhadap pasar minyak dunia.

Pembukaan Selat Hormuz Jadi Faktor Penting

Hassan mengingatkan bahwa Selat Hormuz sebelumnya sempat menjadi sumber ketegangan ketika konflik di Timur Tengah meningkat. Proses normalisasi pasca-kesepakatan AS-Iran, kata dia, perlu dilihat secara bertahap dan tidak dapat dianggap selesai hanya dengan penandatanganan dokumen. "Pada akhirnya kita akan tergantung pada arus atau flows minyak yang melewati Hormuz," katanya. Menurut Hassan, kelancaran distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk akan menjadi indikator utama keberhasilan implementasi kesepakatan tersebut. Ia menambahkan, dunia masih perlu melihat sejauh mana proses yang sedang berlangsung benar-benar mampu mengembalikan aktivitas pelayaran energi ke kondisi normal.

Harga Minyak Berpotensi Turun

Hassan berharap perundingan yang sedang berlangsung dapat memberikan dampak positif terhadap harga minyak dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak mulai menunjukkan tren penurunan. "Saya mengharapkan bahwa harga minyak yang sudah turun sebetulnya dengan adanya perundingan ini bisa lebih turun lagi," ujarnya. Meski demikian, ia menilai proses pemulihan tidak akan berlangsung secara instan. Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara penuh. Masih terdapat berbagai faktor teknis dan keamanan yang harus diselesaikan. Menurut Hassan, pemulihan arus pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut kemungkinan berlangsung secara bertahap sebelum kembali normal. "Jadi kita perlu mengikuti sejauh mana proses ini memang pada akhirnya menuju pada normalisasi arus minyak dan gas dari kawasan itu ke dunia, termasuk kita," katanya.

Fokus pada Implementasi MoU

Sebelumnya, Iran menyatakan sejumlah langkah penting telah disepakati dalam perundingan dengan Amerika Serikat di Burgenstock, Swiss. Pertemuan itu diharapkan membuka jalan menuju negosiasi kesepakatan final antara kedua negara. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan hasil perundingan tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi implementasi nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani kedua pihak. “Secara umum, langkah-langkah penting telah disepakati untuk membuka jalan bagi dimulainya negosiasi terkait kesepakatan final,” kata Baghaei seperti dikutip kantor berita pemerintah Iran, IRNA, pada Senin, 22 Juni 2026. Salah satu hasil utama perundingan itu adalah pembentukan mekanisme pemantauan baru atau deconfliction cell. Mekanisme ini melibatkan negara-negara mediator untuk mengawasi keberlanjutan gencatan senjata dan penghentian aksi permusuhan, termasuk di Lebanon. Selain itu, kedua pihak juga membahas pemberian lisensi bagi penjualan minyak Iran serta pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibatasi aksesnya. Perundingan juga menyoroti keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Para pihak sepakat membentuk mekanisme khusus untuk menjamin keamanan lalu lintas kapal di jalur yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia tersebut. Qatar dan Pakistan selaku mediator menyebut para pihak telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan damai final dalam 60 hari ke depan. Sementara itu, tim-tim teknis akan melanjutkan pembahasan guna memastikan implementasi MoU berjalan efektif.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar