PARADAPOS.COM - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa kekuatan pertahanan suatu negara berbanding lurus dengan kemampuan ekonominya. Pernyataan itu ia sampaikan saat berkunjung ke Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya pada Kamis, 25 Juni 2026. Menurut AHY, fondasi ekonomi yang kokoh menjadi prasyarat utama bagi sebuah bangsa untuk membangun teknologi, industri strategis, dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) secara mandiri.
Ekonomi Kuat, Pertahanan Mandiri
Di hadapan para taruna dan perwira di lingkungan AAL, AHY memaparkan pandangannya tentang hubungan erat antara stabilitas ekonomi dan kemandirian pertahanan. Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka statistik, melainkan fondasi nyata untuk memperkuat daya saing bangsa di sektor pertahanan.
“Ekonomi kita harus tumbuh dengan baik. Karena dengan ekonomi yang tumbuh, kita punya kemampuan yang lebih besar untuk memajukan alutsista dan memajukan sumber daya manusia pertahanan kita,” jelas AHY dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.
Kolaborasi Global Tanpa Kehilangan Identitas
Dalam kesempatan yang sama, AHY menyoroti pentingnya kemandirian teknologi pertahanan. Namun, ia mengingatkan bahwa kemandirian tersebut tidak berarti menutup diri dari kerja sama dengan negara lain. Justru, kolaborasi internasional harus dimanfaatkan secara strategis untuk mempercepat proses alih pengetahuan dan teknologi.
“Kita tidak perlu malu bekerja sama dengan negara lain. Tetapi semangat akhirnya harus sama, yaitu kita memiliki kemampuan teknologi itu sendiri,” ungkap AHY.
Ia merinci sejumlah langkah yang perlu terus diperkuat, mulai dari transfer pengetahuan ("transfer of knowledge"), transfer teknologi ("transfer of technology"), riset bersama ("joint research"), hingga produksi bersama ("joint production"). Semua ini, menurutnya, harus dijalankan secara simultan agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, melainkan pemain aktif dalam rantai industri pertahanan global.
Membangun Ekosistem Maritim yang Utuh
Lebih jauh, AHY mengingatkan bahwa pembangunan kekuatan maritim tidak bisa disempitkan pada pengadaan kapal perang atau penambahan personel Angkatan Laut semata. Di balik itu semua, terdapat ekosistem besar yang harus dibangun secara terpadu.
Ekosistem yang dimaksud mencakup pengembangan pelabuhan, industri galangan kapal nasional, jalur logistik laut yang efisien, hingga pengembangan ekonomi biru. Semua elemen ini, kata AHY, saling terkait dan harus berjalan beriringan.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk menjadikan sektor maritim sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, AHY menegaskan bahwa pembangunan ekonomi dan pembangunan pertahanan tidak boleh lagi dipandang sebagai dua agenda yang terpisah.
“Kita ingin menjaga kedaulatan. Kita ingin mandiri. Dan semua itu dimulai dari kemampuan bangsa membangun kekuatannya sendiri,” ujar AHY di hadapan para taruna.
Suasana di lingkungan Akademi Angkatan Laut sore itu tampak khidmat. Para taruna menyimak setiap paparan Menko IPK dengan saksama, seolah memahami bahwa masa depan pertahanan maritim Indonesia sedang dirumuskan, tidak hanya di ruang rapat, tetapi juga di tepi dermaga dan di atas geladak kapal perang.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Siswa SMP di Semarang Trauma dan Tak Bersekolah Selama Tiga Bulan Usai Dirundung Kakak Kelas di Toilet
Bank Jakarta Perkuat Transformasi Digital, Raih Tujuh Penghargaan Perbankan 2025-2026
Taufik Hidayat, Tersangka Penyekapan dan Penganiayaan Selama Tiga Tahun, Ditangkap di Rumah Mantan Rekan Kerja
Polda NTT Latih Kesehatan Mental Personel dengan Metode Psikologi Energi Jelang HUT ke-80 Bhayangkara