PARADAPOS.COM - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk akhirnya buka suara soal lonjakan harga regasifikasi gas alam cair (LNG) yang membebani industri. Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menjelaskan bahwa kenaikan ini dipicu oleh dinamika geopolitik global yang mendorong harga energi dunia melambung tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesian Crude Price (ICP) meroket dari sekitar US$64 per barel pada Januari menjadi jauh di atas US$110 per barel pada April 2026. Kondisi ini, menurut Fajriyah, secara langsung meningkatkan biaya perolehan LNG yang harus dikeluarkan perusahaan dari produsen.
Mekanisme Harga yang Berbeda
Fajriyah menekankan bahwa struktur biaya LNG memiliki perbedaan fundamental dengan gas pipa. Ia merinci, harga LNG tidak hanya mencakup pembelian dari produsen, tetapi juga biaya transportasi, penyimpanan, hingga proses regasifikasi. Kompleksitas rantai pasok inilah yang membuat harganya lebih sensitif terhadap gejolak pasar global.
“Atas kenaikan ICP tersebut, PGN baru menyesuaikan harga secara bertahap pada Juni 2026 setelah melalui evaluasi dan koordinasi dengan kementerian terkait. Kami juga berharap, penyesuaian ini bersifat sementara karena mekanisme harga LNG mengikuti pergerakan indikator energi global secara dinamis,” ujar Fajriyah dalam keterangannya, Jumat (26/6).
Koordinasi dengan Pemerintah dan Industri
Meski menghadapi tekanan, PGN mengaku tidak tinggal diam. Perusahaan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan asosiasi industri untuk mengoptimalkan pasokan gas. Tujuannya jelas: mencari solusi agar kebutuhan pelanggan tetap terpenuhi tanpa mengorbankan keberlanjutan pasokan dan ketahanan energi nasional.
“Kami memahami concern dari pelaku industri, karena beberapa bulan terakhir harga energi global naik dan ikut mempengaruhi harga LNG yang kami beli dari produsen LNG. Kami juga sudah menerima masukan dari asosiasi maupun pelanggan terkait kondisi ini,” ungkapnya.
Fajriyah menambahkan, saat ini kebutuhan gas bumi untuk industri yang disalurkan PGN dipasok dari dua portofolio: gas pipa dan gas hasil regasifikasi LNG. Ia memastikan pasokan gas untuk seluruh pelanggan pada Juni 2026 tetap tersedia dari kedua sumber tersebut.
“Penyesuaian harga hanya terjadi pada portofolio pasokan berbasis LNG, sementara pasokan gas pipa, termasuk kebutuhan HGBT untuk tujuh sektor industri, tidak mengalami kenaikan harga dan tetap mengacu pada ketetapan Pemerintah,” tegasnya.
Peluang Penurunan Harga LNG
Di sisi lain, pemerintah memberikan secercah harapan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut ada peluang harga regasifikasi LNG untuk sektor industri bisa turun. Sebelumnya, asosiasi dan forum industri mengeluhkan tarif regasifikasi LNG yang mencapai US$20 per MMBTU, jauh lebih tinggi dibandingkan harga HGBT yang hanya US$7 per MMBTU.
“Ada potensi seperti itu (turun), karena kemarin sudah diberikan arahan oleh Pak Menteri ESDM agar kami bicarakan dengan PGN, komponen mana yang bisa diatur. Termasuk di hulunya seperti apa, sehingga nanti ada potensi untuk bisa kami atur lebih rendah dari sebelumnya,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (26/6).
Laode menjelaskan, penyesuaian harga ini nantinya akan tertuang dalam revisi keputusan menteri. Ia menambahkan, harga yang disesuaikan tidak hanya LNG, tetapi juga HGBT. Pada hari yang sama, Kementerian ESDM, SKK Migas, PGN, dan Kementerian Perindustrian menggelar rapat untuk membahas harga gas industri.
“Intinya kami akan cocokkan antara suplai gas hulu serta kebutuhan industri agar tidak ada lagi perbedaan yang kemudian hari diklaim sebagai kekurangan pasokan,” pungkasnya.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Microsleep Saat Berkendara Bisa Berlangsung Tiga Detik, Setara Melaju 66 Meter Tanpa Kendali
Uruguay vs Spanyol: Laga Penentu Lolos ke 32 Besar, Yamal Jadi Sorotan
Spanyol Hadapi Uruguay di Laga Penentu Grup H, Yamal Jadi Sorotan
Gerindra Santai Tanggapi Blusukan Jokowi Bersama Kaesang, Minta Fokus pada Program Pemerintahan