Lebanon, Israel, dan AS Tandatangani Kerangka Kesepakatan Trilateral Menuju Perdamaian Permanen

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 05:50 WIB
Lebanon, Israel, dan AS Tandatangani Kerangka Kesepakatan Trilateral Menuju Perdamaian Permanen
PARADAPOS.COM - Washington menjadi saksi penandatanganan kerangka kesepakatan trilateral antara Lebanon, Israel, dan Amerika Serikat pada Sabtu, 27 Juni 2026. Kesepakatan ini dirancang sebagai landasan menuju perjanjian damai permanen antara dua negara yang telah lama terlibat konflik. Setelah lima putaran perundingan intensif di ibu kota AS, dokumen tersebut mencakup program percontohan penyerahan kendali keamanan di dua wilayah yang diduduki Israel kepada Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF), serta pembentukan proses pelucutan senjata kelompok Hizbullah. Lebih dari satu juta warga Lebanon telah mengungsi dan sedikitnya 4.200 orang tewas sejak konflik pecah pada Maret lalu.

Reaksi Para Pihak

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah awal menuju perdamaian yang lebih luas. Dalam upacara penandatanganan, Rubio mengatakan, "Kesepakatan ini mulai membangun kerangka menuju perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan. Ini adalah awal dari sebuah awal. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan." Suasana di ruang seremonial tampak penuh harap, meskipun kerutan di dahi para delegasi mengisyaratkan tantangan yang masih membentang di depan. Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh Moawad, menyambut baik dokumen tersebut. Menurutnya, kesepakatan itu merupakan langkah pertama untuk memulihkan kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon, mengakhiri permusuhan secara permanen, serta memungkinkan warga kembali ke tempat tinggal mereka. Ia berbicara dengan nada tenang namun tegas, seolah ingin meyakinkan publik bahwa jalan panjang telah dimulai. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menyatakan bahwa kesepakatan tersebut membuka jalan menuju perdamaian dengan menyingkirkan pengaruh Iran dan Hizbullah dari persamaan keamanan di Lebanon. Pernyataan ini mencerminkan sikap keras Tel Aviv yang selama ini menganggap kelompok tersebut sebagai ancaman utama.

Isi Kesepakatan

Berdasarkan dokumen yang dirilis Departemen Luar Negeri AS, Israel dan Lebanon menyatakan niat untuk mengakhiri konflik secara permanen, menyelesaikan akar penyebabnya, serta secara resmi mengakhiri status perang di antara kedua negara. Ini bukan sekadar gencatan senjata, melainkan upaya untuk menulis ulang halaman hubungan bilateral yang penuh luka. Kesepakatan juga menetapkan mekanisme bagi Angkatan Bersenjata Lebanon untuk memulihkan kewenangan penuh atas seluruh wilayah Lebanon. Proses ini baru akan berjalan setelah pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara, terutama Hizbullah, dapat diverifikasi. Sebagai bagian dari pengaturan tersebut, militer Israel akan menarik pasukannya secara bertahap dari wilayah Lebanon. Pada tahap awal, tentara Lebanon akan mengambil alih pengamanan di dua wilayah percontohan, masing-masing di selatan dan utara Sungai Litani. Setelah pengamanan berjalan, rekonstruksi yang didukung masyarakat internasional akan dimulai sehingga warga sipil dapat kembali ke daerah tersebut. Di atas kertas, skema ini terdengar rapi, tetapi implementasi di lapangan tentu akan diuji oleh realitas politik yang rumit. Selain itu, Amerika Serikat akan membentuk kelompok kerja militer untuk membantu implementasi kesepakatan. Washington juga mengalokasikan bantuan kemanusiaan sebesar US$100 juta melalui koordinasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta mengganti biaya operasional Angkatan Bersenjata Lebanon sebesar US$30 juta guna meningkatkan kapasitas mereka.

Perbedaan Sikap Masih Ada

Meski kerangka kesepakatan telah ditandatangani, perbedaan pandangan antara Israel dan Hizbullah masih cukup tajam. Pemimpin Hizbullah Naim Qassem menegaskan Israel harus menarik seluruh pasukannya tanpa syarat dari setiap wilayah Lebanon. Sikap ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut belum sepenuhnya berada dalam satu halaman dengan pemerintah Lebanon. Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan Israel tidak akan meninggalkan Lebanon sebelum Hizbullah benar-benar melucuti seluruh persenjataannya. Dua posisi yang saling bertolak belakang ini mengingatkan bahwa perdamaian sejati masih memerlukan negosiasi yang lebih alot. Di tengah optimisme yang melingkupi upacara penandatanganan, suara-suara dari lapangan mengingatkan bahwa kata-kata di atas kertas belum cukup untuk menyembuhkan luka perang.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar