Wakil Ketua MPR: Ancaman Kebangsaan Muncul saat Perbedaan Dipertentangkan dan Sejarah Kebersamaan Dilupakan

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:50 WIB
Wakil Ketua MPR: Ancaman Kebangsaan Muncul saat Perbedaan Dipertentangkan dan Sejarah Kebersamaan Dilupakan
PARADAPOS.COM - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa Indonesia adalah satu bangsa yang tidak terpisah, dan ancaman terhadap kebangsaan muncul ketika perbedaan dipertentangkan serta sejarah kebersamaan dilupakan. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Kongkow Kebangsaan: Tionghoa dalam Kebangsaan dan Kebudayaan Indonesia yang digelar oleh Persaudaraan Peranakan Tionghoa Warga Indonesia (PERTIWI) di White House de Noyas, Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, pada Jumat, 26 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, Lestari menekankan pentingnya merawat persatuan di tengah keberagaman etnis, suku, dan agama yang menjadi ciri khas bangsa.

Merawat Kebangsaan di Tengah Keberagaman

Acara yang berlangsung di kawasan Banyumas itu menjadi ajang diskusi lintas komunitas. Lestari hadir untuk menyampaikan pandangannya mengenai posisi etnis Tionghoa dalam bingkai kebangsaan Indonesia. Suasana di White House de Noyas tampak hangat, dihadiri oleh perwakilan komunitas yang antusias mendiskusikan sejarah dan budaya. "Indonesia berdiri bukan karena semua orang sama, melainkan karena kita memilih berbagi 'rumah' yang sama. Rumah itu dibangun dari ribuan perjumpaan, ratusan budaya, dan beragam etnis yang saling memperkaya," ujar Lestari dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Sabtu, 27 Juni 2026.

Empat Konsensus sebagai Benteng Persatuan

Menurut Lestari, perlindungan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali sudah dijamin oleh konstitusi. Ia menekankan bahwa nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam empat konsensus kebangsaan—Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika—merupakan benteng untuk melindungi dan merawat persatuan. Dari sudut pandangnya, politisasi identitas dan stereotip negatif terhadap etnis Tionghoa harus dilawan. Ia menilai bahwa isu perpecahan dan sentimen anti-Tionghoa bukanlah konflik yang lahir secara alami atau organik dari masyarakat.

Melawan Politisasi Identitas

Lebih lanjut, Lestari menjelaskan bahwa isu perpecahan dan sentimen negatif tersebut merupakan hasil konstruksi politik yang sengaja dibangun, yaitu politik "devide et impera" atau politik adu domba. Anggota Komisi X DPR RI itu menegaskan bahwa kekuatan Indonesia selalu lahir dari kemampuannya mengubah keberagaman menjadi persaudaraan yang erat. "Itulah makna sejati Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar hidup berdampingan, melainkan tumbuh, berkarya, dan membangun masa depan bersama sebagai satu bangsa, Indonesia," tuturnya.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar