DPR Desak Kemhan Hentikan Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Usai Lima Peserta Tewas

- Minggu, 28 Juni 2026 | 01:50 WIB
DPR Desak Kemhan Hentikan Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Usai Lima Peserta Tewas

PARADAPOS.COM - Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mendesak penghentian kegiatan latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KMNP). Desakan ini muncul setelah lima orang peserta dilaporkan meninggal dunia saat mengikuti rangkaian program tersebut. Anggota Komisi I DPR, Oleh Soleh, secara khusus meminta Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk segera menghentikan sementara pelaksanaan latsarmil dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) demi mencegah bertambahnya korban jiwa.

Suasana duka masih menyelimuti prosesi pemakaman para peserta yang gugur. Di tengah hiruk-pikuk program pembangunan desa, tragedi ini menjadi pengingat pahit akan risiko yang mengintai di balik semangat pengabdian. Lima anak muda yang sebelumnya penuh cita-cita untuk membangun ekonomi masyarakat dari akar rumput, kini harus kehilangan nyawa di tempat yang seharusnya menjadi wadah pembentukan karakter.

Desakan Evaluasi Total dari Komisi I DPR

Oleh Soleh menegaskan bahwa fakta telah ditemukannya lima jenazah peserta latsarmil bukanlah persoalan yang bisa dianggap remeh. Ia menyoroti bahwa nyawa manusia adalah hal yang paling berharga dan tidak boleh diperlakukan sebagai konsekuensi yang wajar dari sebuah program pelatihan.

"Peristiwa meninggalnya lima orang calon manajer Kopdes Merah Putih ini merupakan masalah yang sangat serius. Jangan anggap enteng nyawa manusia yang meninggal," kata Oleh dalam pernyataannya, Minggu (28/6).

"Karena itu saya mendesak Kementerian Pertahanan menghentikan sementara pelaksanaan latsarmil dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut," lanjutnya.

Legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menekankan bahwa para peserta adalah putra-putri terbaik bangsa. Mereka datang dengan semangat tinggi untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi masyarakat melalui program Kopdes Merah Putih. Oleh karena itu, setiap insiden yang berujung pada hilangnya nyawa harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang lumrah.

Kritik terhadap Metode Pelatihan

Politikus asal dapil Jawa Barat itu juga menyoroti pendekatan pelatihan yang dinilai tidak sesuai dengan latar belakang peserta. Menurutnya, sistem pembinaan dan pelatihan bagi calon manajer Kopdes Merah Putih perlu diperbaiki secara total.

"Mereka adalah masyarakat sipil sehingga pelatihan fisik yang dilakukan tidak boleh terlalu berat. Mereka bukan tentara dan tentu kemampuan fisiknya tidak sama dengan prajurit yang telah menjalani pendidikan kemiliteran," bebernya.

Pernyataan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara standar pelatihan yang diterapkan dengan kondisi fisik para peserta yang notabene adalah warga sipil. Suasana di lapangan, menurut sumber yang dihimpun, menunjukkan bahwa beberapa peserta mengalami kelelahan ekstrem sebelum akhirnya jatuh sakit.

Data Korban dan Respons Kementerian Pertahanan

Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan, kelima korban yang meninggal dunia adalah Yonanda Muhammad Taufiq (meninggal 17 Juni), Anisa Muyassaroh (meninggal 18 Juni), Novia Rahmadhani Sihotang (meninggal 22 Juni), Muhammad Rifki Renaldi Gunawan (meninggal 26 Juni), dan Nola Dya Sari (meninggal 26 Juni).

Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin pun turun tangan memberikan atensi khusus pasca tragedi ini. Ia memerintahkan penyelenggara latsarmil untuk menyesuaikan intensitas kegiatan berdasarkan kondisi masing-masing peserta.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, dalam konferensi pers di Kantor Kemhan pada Sabtu (27/6). Ia menjelaskan bahwa Menhan meminta agar aspek kesehatan peserta menjadi prioritas utama.

"Penguatan aspek kesehatan peserta menjadi perhatian utama. Pemeriksaan berkala bagi peserta yang memiliki faktor risiko, penyesuaian intensitas kegiatan sesuai dengan kondisi peserta, serta penguatan pengawasan medis di satuan pendidikan," kata dia kepada awak media.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Kemhan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mendapatkan asistensi medis. Fokus koordinasi ini adalah pada upaya pencegahan, deteksi dini, dan penanganan penyakit paru serta penyakit menular di kawasan satuan pendidikan (satdik).

Penegasan Status Latihan dan Duka Mendalam

Mayjen Ketut Gede Wetan Pastia menegaskan bahwa latsarmil yang dijalani oleh calon manajer Kopdes Merah Putih dan KNMP bukanlah pendidikan militer. Ia menjelaskan bahwa para peserta digembleng agar lebih disiplin dan profesional, bukan untuk menjadi prajurit.

"Dengan adanya program ini terus berlanjut karena bagian dari proses yang tadi saya sampaikan tadi, dalam rangka menciptakan atau mendidik (calon) manajer yang profesional dan seterusnya, disiplin tadi," jelasnya.

Atas meninggalnya lima orang peserta, Kemhan menyampaikan duka cita yang mendalam. Menurut keterangan resmi, kelima peserta meninggal dunia karena mengalami gangguan kesehatan. Sesuai dengan standar operasional prosedur, mereka telah ditangani oleh petugas medis di lokasi, namun nyawa mereka tetap tidak tertolong.

"Sejak para peserta mengalami gangguan kesehatan, seluruhnya telah memperoleh penanganan oleh tenaga kesehatan di satuan pendidikan dan selanjutnya dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan sesuai dengan prosedur yang berlaku," kata dia.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar