Peti Jenazah Ayatollah Khamenei Diperlihatkan ke Publik di Tehran untuk Pertama Kalinya

- Jumat, 03 Juli 2026 | 23:25 WIB
Peti Jenazah Ayatollah Khamenei Diperlihatkan ke Publik di Tehran untuk Pertama Kalinya
PARADAPOS.COM - Untuk pertama kalinya, peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei, mantan pemimpin tertinggi Iran, diperlihatkan ke publik pada Kamis, 2 Juli 2026, di Grand Mosalla, Tehran. Prosesi ini digelanggar setelah sang pemimpin wafat akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Ribuan pelayat yang mengenakan pakaian serba hitam memadati lokasi, tak hanya menangis, tetapi juga meneriakkan slogan-slogan keagamaan.

Prosesi di Grand Mosalla

Suasana duka menyelimuti kompleks Grand Mosalla, yang secara resmi dikenal sebagai Imam Khomeini Mosalla. Para pelayat tampak membawa peti jenazah Khamenei yang berbalut bendera Iran saat memasuki area masjid raya tersebut. Foto-foto yang beredar, sebagaimana dilansir AFP dan The National News, memperlihatkan kerumunan orang berduyun-duyun menghadiri acara pra-pemakaman.

Detail Visual dari Lokasi

Di dalam lokasi seremoni, peti jenazah diletakkan dengan latar belakang bunga-bunga merah yang mencolok. Hiasan kupu-kupu putih yang tergantung di udara menambah nuansa khidmat. Para pelayat terus mengalir masuk, menciptakan pemandangan lautan manusia hitam yang hening namun penuh emosi.

Momen Bersejarah

Menurut laporan The National News, kemunculan pertama peti jenazah ini terjadi pada Kamis (2/7) waktu setempat. Peti tersebut ditempatkan di samping husseiniyeh, sebuah aula serbaguna yang biasa digunakan untuk upacara keagamaan, di dalam kompleks Grand Mosalla. Ini menjadi kali pertama warga Iran dapat melihat langsung jenazah pemimpin mereka setelah kabar wafatnya mengguncang dunia.

Reaksi Publik

Tangisan dan pekikan slogan-slogan keagamaan terus bergema selama prosesi berlangsung. Banyak pelayat terlihat berusaha mendekat, ingin memberi penghormatan terakhir. Suasana haru bercampur dengan kemarahan atas peristiwa yang merenggut nyawa pemimpin mereka.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar