PARADAPOS.COM - Direktorat Kepolisian Perairan Baharkam Polri, melalui Korps Kepolisian Air dan Udara, memperketat pengawasan di perairan Kalimantan Utara. Langkah ini menyasar kawasan perbatasan Nunukan dan Sebatik yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Tujuannya jelas: menekan potensi kejahatan lintas negara, mulai dari penyelundupan narkotika, tindak pidana perdagangan orang (TPPO), hingga aktivitas ilegal seperti penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) dan pembalakan liar (illegal logging).
Mengapa Perbatasan Nunukan dan Sebatik Jadi Prioritas?
Wilayah perbatasan Nunukan dan Sebatik memang dikenal rawan. Posisinya yang berbatasan langsung dengan Malaysia membuat celah bagi pelaku kejahatan untuk melintas. Dari laporan yang dihimpun di lapangan, arus barang dan orang di kawasan ini cukup padat, sehingga pengawasan ekstra menjadi kebutuhan mendesak.
Polisi tidak hanya berjaga di titik-titik strategis. Mereka juga melakukan patroli rutin dan inspeksi mendadak ke kapal-kapal yang melintas. Setiap dokumen dan muatan diperiksa dengan teliti. “Kami ingin memastikan tidak ada celah bagi pelaku kejahatan untuk memanfaatkan wilayah ini,” ujar salah satu perwira di lapangan.
Fokus pada Kejahatan Lintas Negara
Ada beberapa jenis kejahatan yang menjadi perhatian utama. Pertama, penyelundupan narkotika. Jalur laut sering digunakan karena dianggap lebih sulit terdeteksi. Kedua, TPPO. Banyak korban yang dijanjikan pekerjaan di Malaysia, namun justru berakhir sebagai pekerja ilegal. Ketiga, aktivitas ilegal seperti illegal fishing dan illegal logging yang merugikan negara secara ekonomi dan ekologis.
“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Koordinasi dengan instansi lain, seperti Bea Cukai dan TNI AL, terus kami perkuat,” ungkapnya. Langkah ini diambil agar pengawasan tidak tumpang tindih dan lebih efektif.
Dampak dan Harapan ke Depan
Pengawasan yang diperketat ini diharapkan mampu menekan angka kejahatan di perairan Kalimantan Utara. Namun, tantangan tetap ada. Luasnya wilayah perairan dan minimnya infrastruktur di beberapa titik menjadi kendala klasik. Meski begitu, pihak kepolisian optimistis. Dengan dukungan teknologi dan personel yang terlatih, pengawasan bisa berjalan maksimal.
Di sisi lain, masyarakat setempat juga diimbau untuk ikut berperan aktif. Melaporkan aktivitas mencurigakan bisa menjadi langkah awal yang berarti. “Kami butuh partisipasi semua pihak. Keamanan perbatasan adalah tanggung jawab kita bersama,” jelasnya menutup pernyataan.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Jampidsus Febrie Adriansyah Mundur di Tengah Penyelidikan Tiga Kasus Korupsi oleh Polri
DPR Dorong RUU Satu Data Indonesia Gantikan Perpres 39/2019 demi Kebijakan Berbasis Data Akurat
Menlu Iran ke Oman Bahas Stabilitas Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS
Polda Banten Bongkar Pungli Berkedok Biaya Kebersihan Pasar di Kawasan Industri Serang, Empat Pelaku Dibekuk