Rocky Gerung Beberkan Alasan NU Selalu dalam Kondisi Prahara

- Selasa, 25 November 2025 | 01:25 WIB
Rocky Gerung Beberkan Alasan NU Selalu dalam Kondisi Prahara
Analisis Rocky Gerung: NU dalam Kondisi Prahara - Polemik PBNU Terkini

Analisis Rocky Gerung: NU Akan Selalu Berada dalam Kondisi Prahara

Polemik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus menjadi sorotan publik. Konflik ini memanas setelah Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, dinilai menantang hasil risalah Syuriyah yang memintanya untuk mundur.

Pengamat politik Rocky Gerung memberikan pandangannya mengenai situasi pelik yang melanda ormas Islam terbesar di Indonesia ini. Menurutnya, kondisi ini merupakan konsekuensi logis yang dihadapi NU.

"Organisasi yang dirancang sebetulnya untuk memelihara ethics value itu tapi kemudian terlihat dalam soal-soal yang politik pragmatis. Kesimpulan dari analisis kita bahwa NU memang akan selalu ada di dalam kondisi prahara," ujar Rocky Gerung dalam kanal YouTube pribadinya, Senin malam, 24 November 2025.

Penyebab NU Terus dalam Prahara

Rocky Gerung melanjutkan analisisnya dengan menyoroti akar permasalahan. Menurut dia, situasi ini terjadi karena NU yang memiliki basis nilai religiusitas yang kuat, akhirnya tergoda oleh praktik pragmatisme, termasuk dalam ranah politik dan bisnis.

"Organisasi yang didirikan dengan basis nilai yang kuat itu, akhirnya terseret, harus terlibat karena panggilan suasana atau panggilan situasi yang bersejarah itu dalam politik dan terakhir soal-soal bisnis," jelasnya.

Rocky Gerung menutup pernyataannya dengan mengatakan, "Jadi oke kita tunggu bagaimana evolusi dalam NU antara pikiran-pikiran akomodasionistik dan pikiran-pikiran pragmatik."

Polemik PBNU dan analisis para pengamat seperti Rocky Gerung terus menjadi perbincangan hangat, menandakan dinamika internal organisasi keagamaan yang kompleks.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar