Prabowo menambahkan, dengan bertemu langsung kepala daerah seperti gubernur, pemerintah pusat dapat segera memahami kebutuhan konkret di lapangan. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan berdasarkan kondisi riil dan data aktual dari lokasi kejadian.
Pemimpin Harus Siap Dikritik dan Difitnah
Lebih jauh, Presiden mengingatkan para menteri, kepala badan, hingga gubernur bahwa konsekuensi menjadi pemimpin adalah kesiapan menghadapi kritik, hujatan, bahkan fitnah.
"Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah, siap untuk di... tapi tidak boleh kita terpengaruh dan tidak boleh kita patah semangat," tandasnya.
Bukti Nyata di Lapangan Lebih Penting daripada Pencitraan
Di akhir pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa pendekatan kerja pemerintahannya bertumpu pada pembuktian nyata di lapangan, bukan sekadar pencitraan atau opini.
"Saya percaya dengan bukti, evidence based itu cara bekerja saya. Rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti," pungkas Presiden Prabowo Subianto.
Artikel Terkait
Hakim MK Anwar Usman Absen 81 Kali di 2025: Rekor Tertinggi & Surat Peringatan MKMK
Dugaan Pengaruh Jokowi di Institusi Hukum: Analisis Kinerja Kejaksaan Kasus Silfester Matutina
Pilkada Campuran: Potensi Tekan Biaya Politik vs Risiko Oligarki Menurut Prof. Didik J. Rachbini
Menteri Keuangan Purbaya Tak Bisa Tidur: APBN 2025 Diprediksi Defisit 2,7-2,8%