Analisis Republik Fufufafa Slank: Bahaya Laten & Peringatan untuk Pemilu 2029

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 02:00 WIB
Analisis Republik Fufufafa Slank: Bahaya Laten & Peringatan untuk Pemilu 2029
Analisis Republik Fufufafa Slank: Bahaya Laten Hingga Pemilu 2029

Republik Fufufafa Slank: Analisis Kondisi Negara dan Peringatan untuk 2029

Lirik lagu "Republik Fufufafa" dari grup band Slank dinilai bukan sekadar lagu biasa. Sebuah analisis politik menyebut lagu ini menggambarkan kondisi nyata Indonesia saat ini.

Pengamat politik dan Wakil Ketua Umum Projo periode 2014-2019, Budianto Tarigan, mengungkapkan hal ini dalam podcast Madilog bersama Margi Syarif di kanal YouTube Forum Keadilan TV.

Republik Fufufafa Masih Pegang Kendali?

Budianto Tarigan dengan tegas menyatakan bahwa kekuatan yang disebut "Republik Fufufafa" masih memegang kendali dalam pemerintahan saat ini. Kendali tersebut meliputi aspek politik, hukum, dan ekonomi.

Ia memberikan contoh nyata pada proyek Whoosh (Kereta Cepat Jakarta-Bandung) yang disebut meninggalkan beban ratusan triliun rupiah. Menurutnya, meski Presiden Prabowo Subianto langsung mengambil tanggung jawab, pola seperti ini patut diwaspadai.

Peringatan Keras untuk Pemilu 2029

Sebagai mantan pendukung setia Jokowi, Budi menyampaikan peringatan khusus untuk pemerintahan Prabowo dan seluruh rakyat Indonesia. Ia mengingatkan agar semua pihak berhati-hati menyongsong Pemilu 2029.

"Mereka pasti punya agenda. Potensi laten itu ada. Apalagi 2029 mereka pasti akan mau berkuasa," tegas Budianto Tarigan.

Kondisi Rakyat dan Ancaman Manipulasi

Analisis ini juga mengaitkan kondisi sosial-ekonomi rakyat yang sulit dengan kerentanan politik di masa depan. Budi menilai, akumulasi kesulitan hidup dapat membuat rakyat terpaksa membuat pilihan yang tidak sesuai nurani hanya untuk menyelamatkan diri.

Situasi "kepepet" ini, menurutnya, bisa dimanfaatkan oleh kekuatan lama untuk kembali berkuasa pada Pemilu 2029 mendatang.

Dengan demikian, lagu Slank yang viral ini bukan hanya kritik sosial, tetapi juga menjadi bahan refleksi dan peringatan dini tentang dinamika dan bahaya laten kekuasaan di Indonesia.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar