Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Dinyatakan Lulus Dua Kali?
Informasi resmi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengenai kelulusan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menimbulkan kebingungan publik. Penelusuran terhadap kanal YouTube resmi UGM menemukan dua pernyataan berbeda yang disampaikan langsung oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia.
Pernyataan Pertama: Lulus 5 November 1985
Dalam video berjudul "Pernyataan Rektor UGM terkait Ijazah Joko Widodo" yang diunggah pada 22 Agustus 2025, Prof. Ova Emilia dengan tegas menyatakan bahwa Jokowi dinyatakan lulus dari UGM pada 5 November 1985. Ia juga menegaskan bahwa ijazah telah diberikan saat wisuda yang berlangsung pada 19 November 1985.
Rektor juga mengklaim bahwa UGM memiliki dokumen otentik yang lengkap mengenai seluruh proses pendidikan Jokowi, mulai dari penerimaan, perkuliahan sarjana muda dan sarjana, Kuliah Kerja Nyata (KKN), hingga proses wisuda.
Pernyataan Kedua: Lulus 23 Oktober 1985
Namun, informasi berbeda muncul dalam video lanjutan bertajuk "Penegasan Rektor UGM tentang Ijazah Joko Widodo" yang dipublikasikan pada 28 November 2025. Dalam video ini, Prof. Ova menyebutkan tanggal kelulusan yang berbeda, yaitu 23 Oktober 1985.
Dalam pernyataan tersebut, disebutkan bahwa Jokowi lulus program sarjana dengan Indeks Prestasi di atas 2,5 dan telah menerima ijazah asli sesuai ketentuan yang berlaku.
Penegasan UGM: Tanggung Jawab, Bukan Pembelaan
Di akhir video penegasan, Prof. Ova Emilia menyatakan bahwa klarifikasi ini merupakan bentuk tanggung jawab institusi UGM untuk menyampaikan kebenaran. Ia menekankan bahwa pernyataan ini tidak dimaksudkan untuk membela satu pihak mana pun secara tidak proporsional.
Perbedaan dua pernyataan resmi dari pimpinan tertinggi kampus ini tentu mengundang pertanyaan publik. Hingga kini, belum ada klarifikasi lebih lanjut yang merinci alasan perbedaan tanggal kelulusan Jokowi yang disebutkan dalam dua video resmi UGM tersebut.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Larang Roy Suryo Layani Tantangan Debat Rismon Sianipar
Aktivis Ungkap Detil Pertemuan dengan Rismon Sianipar Soal Dokumen Skripsi Jokowi
Presiden Prabowo Sebut Kritik Pengamat Ekonomi Sikap Sempit dan Tidak Patriotik
Menkeu Kritik Analisis Ekonomi di TikTok dan YouTube: Kita Nggak Perlu Takut