PARADAPOS.COM - Seorang analis kebijakan publik mendorong Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, untuk menunjukkan sikap yang lebih tegas dan mandiri dalam merespons dinamika geopolitik global, khususnya terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Seruan ini disampaikan melalui media sosial di tengah sorotan terhadap respons pemerintah Indonesia atas sejumlah peristiwa internasional dalam beberapa waktu terakhir.
Seruan untuk Sikap yang Lebih Tegas
Muhammad Said Didu, mantan pejabat Kementerian BUMN, mengungkapkan pandangannya melalui platform X pada akhir Maret 2026. Dalam cuitannya, ia menyoroti sejumlah perspektif yang berkembang di publik yang mempertanyakan kemandirian sikap Indonesia di panggung dunia. Didu lantas mempertanyakan langsung apakah ada dasar dari keraguan tersebut.
“Apakah betul info yang beredar, bahwa sikap Presiden saat ini terhadap perang Iran vs AS Israel karena Presiden takut sama Trump dan Netanyahu?” tanyanya.
Beberapa Poin yang Disoroti Analis
Lebih lanjut, Didu merinci beberapa tindakan yang dianggapnya sebagai tanda keraguan dari pemerintah. Ia menyebutkan tiga poin utama yang menjadi perhatiannya, yang menurutnya dapat mempengaruhi citra Indonesia sebagai negara berdaulat.
“Tanda keraguan sikap tersebut antara lain terlambat ucapkan duka cita atas terbunuhnya Ali Khamenei, tidak berani komunikasi dengan Pimpinan tertinggi Iran untuk bebaskan kapal tanker Indonesia melewati selat Hormuz seperti yang dilakukan oleh PM Malaysia dan negara lain,” urainya.
“Dan ketiga belum adanya ucapan duka cita atas gugurnya prajurit Indonesia sebagai pasukan PBB yang diserang oleh Israel,” sambung Didu.
Harapan untuk Kepemimpinan di Tengah Gejolak Global
Merespons perspektif yang berkembang itu, Didu menyampaikan harapannya secara langsung kepada Presiden Prabowo. Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, posisi Indonesia dinilai perlu ditegaskan kembali. Analis yang dikenal dengan pandangannya yang blak-blakan ini menutup pernyataannya dengan sebuah harapan yang tegas.
“Kami berharap agar Bapak Presiden bisa kembali berdiri tegak sebagai pemimpin negara besar Indonesia,” tutupnya.
Pernyataan ini muncul dalam momen yang sensitif, mengingat konstelasi kekuatan global sedang mengalami pergeseran. Sorotan terhadap respons diplomatik Indonesia terhadap berbagai krisis internasional tampaknya akan terus menjadi bahan perbincangan publik, menantikan langkah-langkah konkret pemerintah dalam menjalankan politik luar negeri yang bebas dan aktif.
Artikel Terkait
LHKPN 2025: Kekayaan Bersih Gibran Rp27,9 Miliar, Didominasi Properti
Mantan Diplomat Ungkap Iran Nilai Indonesia Terlalu Pro-AS dan Israel
Partai Demokrat dan BMI Siapkan Langkah Hukum dan Investigasi atas Tuduhan ke AHY di YouTube
Roy Suryo Soroti Tiga Masalah Besar yang Dihadapi Ahli Forensik Rismon