PDIP Sebut Klaim JK Validasi Kekecewaan Terhadap Jokowi

- Senin, 20 April 2026 | 07:25 WIB
PDIP Sebut Klaim JK Validasi Kekecewaan Terhadap Jokowi

PARADAPOS.COM - Ketegangan politik antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan mantan kadernya, Joko Widodo (Jokowi), kembali memanas menyusul pernyataan kontroversial dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kalla mengklaim dirinya sebagai sosok kunci di balik karier politik Jokowi hingga menjadi presiden. Menanggapi hal itu, politikus PDIP Guntur Romli menyebut pernyataan tersebut sebagai validasi atas kekecewaan mendalam yang dirasakan partai dan sejumlah tokoh lain yang pernah mendukung Jokowi.

PDIP Tegaskan Hubungan dengan Jokowi Telah Usai

Respon dari internal PDIP terhadap klaim Jusuf Kalla terasa tegas dan berjarak. Guntur Romli menekankan bahwa secara kelembagaan, partai telah menutup buku terkait hubungan dengan Jokowi. Keputusan pemberhentian resmi terhadap Jokowi, putranya Gibran Rakabuming Raka, dan menantunya Bobby Nasution pada Desember 2024 lalu dianggap sebagai titik akhir. Bagi PDIP, figur mantan presiden itu kini bukan lagi bagian dari narasi perjalanan partai ke depan.

Guntur menyatakan bahwa pernyataan Kalla justru menguatkan pandangan internal partai tentang pola sikap politik Jokowi.

"PDI Perjuangan sudah tutup buku dengan Pak Jokowi, sudah dipecat. Tidak mau lagi membahas dan dikaitkan dengan Jokowi. Tapi kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai pada orang-orang yang berjasa besar padanya," tegasnya.

Daftar Panjang Kekecewaan

Lebih lanjut, Guntur membeberkan sederet nama yang dianggap partai sebagai "korban" dari sikap politik Jokowi. Daftar itu tidak hanya mencakup pimpinan PDIP seperti Megawati Soekarnoputri, Hasto Kristiyanto, dan Pramono Anung, tetapi juga mentor lamanya di Solo, FX Hadi Rudyatmo. Bahkan, nama-nama di luar PDIP seperti Anies Baswedan dan Tom Lembong, yang pernah menjadi bagian dari pemerintahan atau tim suksesnya, turut disebut.

Dengan nada getir, Guntur melanjutkan kritiknya terhadap mantan presiden tersebut.

"Dan tidak hanya ke orang-orang PDI Perjuangan, juga pada Pak Anies Baswedan, dan Pak Tom Lembong, yang semuanya pernah membantu Jokowi. Nama-nama yang saya sebut itu semua berkontribusi besar terhadap karier Jokowi. Tapi apa balasannya? Pengkhianatan dan menyakitkan," lanjutnya.

Klaim Senioritas Jusuf Kalla

Gelombang komentar ini berawal dari pernyataan Jusuf Kalla dalam sebuah konferensi pers di Jakarta. Dengan lantang, mantan wakil presiden dua periode itu menegaskan peran sentralnya dalam membawa Jokowi dari Solo ke panggung politik nasional. Ia mengisahkan bagaimana ia yang meyakinkan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk mengusung Jokowi sebagai calon gubernur DKI Jakarta pada 2012, sebuah langkah yang kemudian menjadi batu loncatan menuju kursi presiden.

"Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi Gubernur. Saya bawa. Saya ke Ibu Mega, 'Ibu ini ada calon baik orang PDIP'. (Megawati menjawab) 'Ah jangan'. Saya datang lagi, akhirnya beliau setuju jadilah Gubernur," kata JK.

Kalla bahkan menyindir kelompok pendukung fanatik Jokowi yang dikenal dengan sebutan "termul" (Ternak Mulyono). Ia menegaskan bahwa tanpa jasanya, jalan Jokowi menjadi presiden tertutup.

"Kasih tahu semua itu termul-termul itu, Jokowi jadi Presiden karena saya. Kan tanpa Gubernur mana bisa jadi Presiden?" tegasnya.

Momen Penentuan di Pilpres 2014

JK juga mengungkap detil lain yang menurutnya krusial, yaitu momen pencalonan Jokowi sebagai presiden pada 2014. Ia mengklaim Megawati bersikeras hanya akan menandatangani surat dukungan untuk Jokowi jika JK yang mendampinginya sebagai calon wakil presiden. Tujuannya, agar JK yang dianggap berpengalaman dapat membimbing Jokowi yang kala itu dinilai masih hijau di tingkat nasional.

"Ibu Mega kasih tahu saya, dia tidak mau teken kalau saya tidak wakilnya. Aduh saya mau pulang kampung waktu itu mau pulang ke Makassar, Ibu Mega bilang jangan, 'Pak Yusuf dampingi. Saya tidak mau teken kalau bukan Pak Yusuf'. Ya bukan saya minta, bukan," ujarnya menjelaskan.

"Ibu Mega yang minta sama saya agar dampingi karena beliau tidak berpengalaman. Mengerti? Jadi jangan coba. Minta maaf ya, kasih tahu semua itu buzzer-buzzer itu. Dia tidak jadi Gubernur kalau bukan saya," imbuh dia.

Pernyataan-pernyataan yang sarat klaim sejarah dan muatan politis ini semakin mengukuhkan jarak yang telah terbentang antara Jokowi dengan partai yang pernah membesarkan namanya, sekaligus menyiratkan kekecewaan dari para tokoh senior yang merasa andil mereka terlupakan.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar