www.paradapos.com -- Harga timah yang rendah menekan belanja modal, dan terdapat faktor-faktor yang ikut campur dalam kebijakan di negara-negara penghasil timah dunia.
Sejumlah faktor ini menimbulkan ketidakpastian yang besar terhadap peningkatan produksi tambang timah dari negara produsen utama timah dunia.
Menurut para analis di Shanghai Metals Market, biaya tunai timah yang baru ditambang antara 15.000 dan 25.000 dolar AS per ton, dengan harga timah di bawah 25.000 dolar AS saat ini, maka terdapat kekurangan stimulus untuk belanja modal jangka Panjang bagi Perusahaan tambang.
Baca Juga: Harga Timah Catat Rekor Harga Tertinggi Sejak November
Ancaman terhadap pasokan timah global di masa depan juga dating dari campur tangan kebijakan di dua negara penghasil timah utama, yaitu Indonesia dan Myanmar.
Menurut analis SMM, sangatlah signifikan, dimana Indonesia membatasi ekspor bijih timah dan menindak penambangan timah ilegal, dan Negara Bagian Wa di Myanmar secara langsung melarang aktivitas penambangan timah pertambangan terbersa negar itu.
Sumber utama produksi timah dunia menjadi tambahan di luar dua negara produsen utama diperkirakan berasal dari Afrika, namun ketidakstabilan politik dan geopolitik menimbulkan kekhawatiran bagi investor.
Baca Juga: Begini Kondisi Harga Timah Dunia dan Proyeksinya Pada Tahun 2024
Diperkirakan secara keseluruhan, produksi timah global mencapai 14.500 ton pada tahun 2024, dengan produksi timah olahan mencapai 380.000 ton.
Sementara itu, sektor-sektor konsumen utama timah sedang mempercepat perkembangannya, memberikan momentum pada peningkatan permintaan timah olahan tahun depan.
Solder memainkan peran penting dalam konsumsi timah global, dengan sekitar 75% bahan solder memasuki pasar konsumen elektronik, komputer, dan terminal komunikasi melalui rantai industri semikonduktor.
Baca Juga: Jelang Akhir Tahun Harga Timah Stabil di Level 24.800
Konsumsi timah saat ini dipengaruhi oleh penurunan pasar semikonduktor pada tahun 2023, namun diperkirakan para analis akan meningkat lebih dari 10% pada tahun 2024.
Selain itu, pertumbuhan tinggi yang berkelanjutan di pasar fotovoltaik dan kendaraan energi baru juga akan mendorong konsumsi timah, dengan total konsumsi diperkirakan mencapai 385.400 ton pada tahun 2024.
Namun sejumlah kendala tejadi di negara penghasil timah dunia, mulai dari kurangnya investasi dipenambangan timah hingga fkctor kebijakan memperketat ekspor timah seperti dilakukan Indonesia dan Myanmar menjadi ancaman pasokan timah global untuk jangka panjang.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: wowbabel.com
Artikel Terkait
Kredit Perumahan Mandek, Menteri Keuangan Khawatirkan Daya Beli Masyarakat
Bursa Asia Anjlok: Penyebab, Dampak ke Indonesia, dan Prediksi ke Depan
Analisis IHSG Hari Ini: Proyeksi 8.150-8.350 Dipicu Data Ekonomi Q3 2025 & Rebalancing MSCI
Semangat Cokroaminoto & Program Koperasi Desa Merah Putih: Strategi Menkop Ferry Bangun Ekonomi Umat