Pejabat mengakui bahwa titik-titik pertahanan kunci Kanada diperkirakan dapat kewalahan dalam waktu dua hari hingga satu minggu jika menghadapi serangan masif. Meski kemungkinan invasi dianggap sangat rendah, prinsip kesiapsiagaan untuk skenario terburuk tetap menjadi prioritas.
Untuk memperkuat ketahanan, Kepala Staf Pertahanan Kanada, Jenderal Jennie Carignan, mengumumkan rencana pembentukan pasukan relawan cadangan yang dapat mencapai 400.000 personel. Ini merupakan upaya signifikan untuk membangun kapasitas pertahanan dalam negeri.
Dukungan Sekutu Internasional
Dalam skenario konflik, Kanada diperkirakan tidak akan berdiri sendiri. Sebagai anggota NATO, Kanada diyakini akan mendapat dukungan militer dari sekutu-sekutu besar yang memiliki senjata nuklir, seperti Prancis dan Inggris.
Mayjen David Fraser (purn.), mantan komandan pasukan Kanada di Afghanistan, menegaskan solidaritas global yang akan dihadapi oleh agresor. "Jika Anda menyerang Kanada, Anda akan menghadapi seluruh dunia," ujarnya, seraya menambahkan bahwa dukungan internasional untuk Kanada akan sangat kuat.
Dengan demikian, rencana pertahanan Kanada merupakan perpaduan antara strategi gerilya modern, mobilisasi massa, dan jaminan aliansi pertahanan global melalui NATO, yang dirancang untuk menjadi deterrent meski ancaman invasi dari AS dianggap sangat kecil.
Artikel Terkait
Bumi Kehilangan Gravitasi 7 Detik 12 Agustus 2026? Ini Fakta Sains dan Penjelasan Hoaks
Dewan Perang Eropa: Klaim Viktor Orban & Ancaman Perang Dunia III yang Dibantah Uni Eropa
Jerman Bangkitkan Militer Terkuat di Eropa 2026: Strategi, Anggaran Rp1.950 Triliun, dan Target 2035
Kecelakaan Kereta Cepat Spanyol: 21 Tewas dalam Tabrakan di Adamuz, Kronologi & Penyebab