AS Siapkan Skenario Serangan Berkepanjangan ke Iran, Ketegangan di Timur Tengah Meningkat

- Minggu, 15 Februari 2026 | 11:50 WIB
AS Siapkan Skenario Serangan Berkepanjangan ke Iran, Ketegangan di Timur Tengah Meningkat

PARADAPOS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas menyusul laporan bahwa militer Amerika Serikat tengah mempersiapkan skenario operasi militer berkelanjutan yang berpotensi berlangsung berminggu-minggu terhadap Iran. Persiapan ini, yang dikabarkan jauh lebih kompleks daripada operasi sebelumnya, muncul di tengah eskalasi retorika dan pergerakan pasukan antara Washington dan Teheran, memicu kekhawatiran akan konflik terbuka yang lebih luas.

Rencana Serangan yang Lebih Kompleks dan Berjangka Panjang

Berbeda dengan operasi militer terbatas di masa lalu, perencanaan yang sedang disusun dikatakan mencakup serangkaian aksi militer yang berkelanjutan. Target yang dimaksud tidak lagi terbatas pada fasilitas pengembangan nuklir Iran, tetapi juga berpotensi meluas ke aset-aset strategis negara lainnya, termasuk fasilitas keamanan dan militer. Meski rincian spesifik target dirahasiakan, langkah ini menunjukkan pendekatan yang lebih luas dan berisiko tinggi.

Pihak berwenang di Washington dilaporkan telah sepenuhnya memperhitungkan dan bersiap menghadapi aksi balasan dari Iran. Kesiapsiagaan ini mengakui potensi skenario berlarut-larut, di mana serangan awal bisa memicu siklus pembalasan yang sulit dikendalikan, sehingga memperpanjang durasi konflik dan memperluas dampaknya di kawasan yang sudah rentan.

Akumulasi Kekuatan dan Retorika yang Mengeras

Eskalasi persiapan ini berjalan beriringan dengan pengumpulan kekuatan militer AS di kawasan. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington telah mengerahkan kapal induk tambahan, ribuan personel, pesawat tempur, serta kapal perusak berpeluru kendali ke perairan dekat Iran. Mobilisasi aset tempur yang signifikan ini dinilai mampu melancarkan serangan ofensif sekaligus membangun pertahanan yang kuat.

Di sisi diplomasi, retorika dari Gedung Putih juga semakin mengeras. Presiden Donald Trump secara terbuka telah beberapa kali mengancam akan membom Iran, menyoroti program nuklir, rudal balistik, dan kebijakan domestik Teheran. Ia menegaskan bahwa jalur diplomasi memiliki batas waktu.

“Selama 47 tahun mereka hanya bicara dan bicara,” ujarnya dalam satu kesempatan, menyiratkan kesabaran yang menipis.

Lebih jauh, Trump bahkan sempat melontarkan kemungkinan perubahan rezim di Iran, meski menolak merinci siapa pengganti yang ia bayangkan. Pernyataan semacam ini semakin mempersulit ruang untuk de-eskalasi dan diplomasi.

Semua Opsi Masih Terbuka

Pernyataan resmi dari Gedung Putih tetap menjaga semua kemungkinan tetap hidup. Juru bicara Anna Kelly menegaskan bahwa berbagai skenario masih dalam pertimbangan.

“Trump memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Ia mendengarkan berbagai pandangan, tetapi keputusan akhir diambil berdasarkan kepentingan terbaik bagi negara dan keamanan nasional,” jelas Kelly.

Pernyataan ini, meski terdengar standar, mengonfirmasi bahwa operasi militer berkepanjangan adalah salah satu skenario yang secara serius dianalisis, bukan sekadar gertakan.

Peringatan Balasan dari Iran

Menanggapi ancaman yang membayang, pihak Iran tidak tinggal diam. Iranian Revolutionary Guard, pasukan elit negara itu, telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan kesiapan untuk membalas setiap serangan terhadap wilayah mereka dengan menargetkan seluruh pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.

Peringatan ini bukanlah hal baru, namun bobotnya menjadi lebih berat mengingat peningkatan postur militer AS. Sejarah kontak terbatas antara kedua negara, seperti serangan balasan Iran terhadap pangkalan AS di Irak setelah pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani, menunjukkan bahwa Teheran bersedia dan mampu melancarkan pembalasan yang terukur namun signifikan.

Dengan demikian, situasi saat ini menggambarkan sebuah kondisi genting dimana persiapan militer, retorika panas, dan peringatan balasan saling bertautan. Setiap langkah salah atau miskomunikasi berpotensi memicu konfrontasi yang konsekuensinya akan dirasakan jauh melampaui perbatasan kedua negara, menjadikan kawasan Timur Tengah sekali lagi sebagai fokus ketegangan global yang mencemaskan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar