Negara-Negara Teluk Dorong Diplomasi Cegah Perang AS-Iran, Khawatirkan Hegemoni Israel

- Senin, 23 Februari 2026 | 22:25 WIB
Negara-Negara Teluk Dorong Diplomasi Cegah Perang AS-Iran, Khawatirkan Hegemoni Israel

PARADAPOS.COM - Peningkatan signifikan kekuatan militer Amerika Serikat di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir memicu spekulasi luas mengenai kemungkinan serangan terhadap Iran. Di balik ketegangan yang memanas, sejumlah negara kunci di kawasan justru aktif mendorong diplomasi untuk mencegah konflik terbuka. Analis menilai, kekhawatiran utama mereka bukanlah simpati terhadap rezim di Teheran, melainkan ketakutan akan kekosongan kekuatan yang akan dimanfaatkan Israel, serta konsekuensi destabilisasi masif yang akan langsung mereka rasakan.

Diplomasi Intensif untuk Menahan Konflik

Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi, Qatar, Oman, disertai Turki dan Mesir, telah terlibat dalam upaya diplomatik yang gencar. Tujuannya jelas: menjauhkan Washington dan Teheran dari jurang peperangan. Langkah ini muncul di tengah mobilisasi pasukan AS terbesar dalam beberapa dekade di kawasan tersebut, yang membuat ancaman serangan terasa semakin nyata.

Seorang analis regional, Eldar Mamedov, mengamati bahwa motif di balik upaya damai ini bersifat pragmatis. Negara-negara Teluk menyadari bahwa mereka akan berada di garis depan pembalasan Iran jika konflik pecah. Lebih dari itu, mereka juga mempertimbangkan skenario pasca-konflik yang penuh ketidakpastian.

Anna Jacobs Khalaf, seorang analis untuk kawasan Teluk, mengonfirmasi analisis ini. “Mereka mungkin ingin melihat kepemimpinan Iran melemah, namun mereka lebih khawatir terhadap skenario kekacauan dan ketidakpastian serta kemungkinan unsur-unsur yang lebih radikal berkuasa di sana,” ungkapnya dalam sebuah wawancara bulan lalu.

Kekhawatiran akan Hegemoni Israel yang Tak Terkendali

Di balik kekhawatiran akan pembalasan langsung Iran, terdapat sebuah ancaman strategis jangka panjang yang dinilai lebih berbahaya oleh beberapa pengamat. Galip Dalay, seorang analis lainnya, mencatat bahwa melemahnya Iran justru akan membuka jalan bagi dominasi Israel di kawasan tanpa penyeimbang.

“Bagi para pemimpin Timur Tengah, ancamannya telah berubah: risiko terbesar kini adalah Israel yang ekspansionis dan agresif, serta kekacauan yang mungkin terjadi di negara Iran,” tulisnya dalam sebuah analisis baru-baru ini.

Pandangan serupa disampaikan oleh Bader al-Saif, asisten profesor sejarah di Universitas Kuwait. “Membom Iran bertentangan dengan perhitungan dan kepentingan negara-negara Teluk Arab. Netralisasi rezim saat ini berpotensi menghasilkan hegemoni Israel yang tak tertandingi, yang tidak akan menguntungkan negara-negara Teluk,” jelasnya kepada media internasional.

Risiko Langsung: Keamanan dan Ekonomi Regional

Ancaman terhadap keamanan negara-negara Teluk bukanlah skenario hipotetis. Sejarah telah membuktikan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan yang signifikan, seperti yang terjadi pada fasilitas minyak Arab Saudi tahun 2019. Para pejabat Iran juga telah berulang kali mengisyaratkan bahwa pangkalan AS di wilayah tersebut akan menjadi target sah jika serangan terjadi.

Serangan rudal Iran ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada pertengahan tahun lalu, meski tidak menimbulkan korban jiwa, menjadi pengingat yang nyata tentang kerentanan tersebut. Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, bahkan menyiratkan bahwa respons di masa depan bisa jauh lebih keras.

Di luar kerusakan fisik, dampak ekonomi diprediksi akan sangat parah. Negara-negara Teluk yang sedang giat mendiversifikasi ekonomi dan menarik investasi asing justru akan melihat modal dan talenta mengungsi dari ancaman perang. Potensi krisis pengungsi dari Iran juga menjadi momok menakutkan, mengingat jarak geografis yang sangat dekat, seperti antara Dubai dan pelabuhan Iran di Bandar Abbas.

Ancaman terhadap Jalur Energi Global

Skenario terburuk lainnya adalah gangguan terhadap jalur pelayaran vital. Para pejabat Iran telah mengisyaratkan kemungkinan menutup atau melakukan pembatasan selektif di Selat Hormuz—jalur laut tempat seperlima pasokan minyak dunia melintas. Meski penutupan total dinilai tidak menguntungkan bagi Iran sendiri, pembatasan "cerdas" ala kelompok Houthi di Laut Merah dapat diterapkan.

Hal ini akan memicu lonjakan premi asuransi dan harga minyak global, memicu inflasi dan gejolak ekonomi dunia. Bagi Amerika Serikat, dampak ini bisa menjadi pukulan politik di tengah tahun pemilihan. Dengan kata lain, konsekuensi ekonomi dari konflik akan dirasakan jauh melampaui batas-batas regional.

Dilema Keamanan dan Ancaman Perlombaan Senjata

Risiko jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah perubahan doktrin nuklir Iran. Analis memperingatkan bahwa serangan militer skala besar justru dapat mendorong Teheran untuk meninggalkan komitmen nuklir sipilnya dan berpacu untuk mengembangkan senjata pemusnah massal. Dengan tingkat pengetahuan teknologi yang sudah dimiliki, hambatan material untuk itu dinilai tidak besar.

Jika skenario ini terwujud, negara-negara Teluk akan berada dalam posisi yang sangat sulit: hidup berdampingan dengan Iran yang berpotensi memiliki senjata nuklir. Situasi ini hampir dipastikan akan memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan, dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sebagai aktor utama yang akan mencari kemampuan penangkal sendiri. Stabilitas regional, yang sudah rapuh, akan menghadapi ujian paling berbahaya.

Oleh karena itu, bagi banyak ibu kota di Teluk, mencegah perang bukanlah soal membela Iran, melainkan sebuah langkah penting untuk melindungi kepentingan keamanan nasional dan stabilitas ekonomi mereka sendiri dari gelombang destabilisasi yang tak terprediksi.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar