Iran Tetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Baru, AS-Israel Ancam Lanjutkan Serangan

- Senin, 09 Maret 2026 | 00:50 WIB
Iran Tetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Baru, AS-Israel Ancam Lanjutkan Serangan

PARADAPOS.COM - Majelis Pakar Iran secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru negara itu, Minggu (8/3/2026), dalam sebuah sesi luar biasa yang digelar menyusul tewasnya ayahnya, Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Pengangkatan putra kedua Khamenei ini langsung diwarnai ancaman keras dari Washington dan Tel Aviv, yang menyatakan akan terus menargetkan siapapun yang memimpin Republik Islam, memperpanjang ketegangan yang telah memicu konflik bersenjata selama sembilan hari terakhir.

Pengangkatan dalam Bayangan Ancaman

Dengan latar belakang perang yang masih berkecamuk, Majelis Pakar Iran bergerak cepat. Lembaga yang bertugas memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi itu menggelar sidang istimewa hanya beberapa waktu setelah Ali Khamenei dilaporkan tewas. Hasilnya, Mojtaba Khamenei, 56 tahun, terpilih dengan mayoritas suara yang sangat besar untuk menduduki posisi sentral dalam struktur politik Iran tersebut. Ia kini menjadi pemimpin ketiga sejak revolusi 1979, meneruskan ayahnya yang memimpin sejak 1989 dan pendiri republik, Ruhollah Khomeini.

Figur Mojtaba selama ini dikenal dekat dengan lingkaran dalam kekuasaan. Di antara keenam anak Ali Khamenei, ia sering dianggap sebagai yang paling mirip dengan sang ayah, baik dalam hal penampilan fisik maupun pandangan intelektual. Pengangkatannya, meski cepat, tidak terjadi dalam kevakuman geopolitik.

Ancaman Terang-terangan dari Washington dan Tel Aviv

Respons dari pihak Amerika Serikat dan Israel datang hampir bersamaan, bahkan sebelum pengumuman resmi dari Tehran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan peringatan keras yang meninggalkan sedikit ruang untuk diplomasi.

"Dia akan membutuhkan persetujuan kita. Jika dia tidak mendapatkannya, dia tidak akan bertahan lama," ucap Trump dalam wawancara dengan ABC News.

Mantan presiden itu lebih lanjut menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran dipimpin oleh figur yang tidak sejalan dengan keinginannya. Ia mengklaim masih ada orang-orang dari "rezim lama" yang memenuhi syarat sebagai pengganti, sambil menuduh Iran berambisi menguasai Timur Tengah. "Mereka hanyalah macan kertas. Percayalah, mereka bukan macan kertas seminggu yang lalu," tegas Trump mengenai kemampuan militer Iran.

Ketika ditanya tentang kemungkinan pengiriman pasukan atau durasi perang, jawabannya samar namun penuh ancaman. "Semuanya mungkin terjadi. Semuanya," tuturnya, seraya menambahkan bahwa operasi militer saat ini berjalan "lebih cepat dari jadwal."

Dukungan dan Ancaman Serupa dari Israel

Ancaman serupa dilontarkan oleh militer Israel, yang secara eksplisit mendukung pernyataan Trump. Dalam sebuah pernyataan tertulis, angkatan bersenjata Israel menyatakan sikap konfrontatif mereka.

"Pasukan kami akan mengejar siapa pun yang berupaya menunjuk pengganti Pemimpin Tertinggi Iran," tulis pernyataan tersebut, mengukuhkan niat untuk melanjutkan target terhadap pucuk pimpinan Iran.

Eskalasi Serangan dan Korban Jiwa

Ancaman-ancaman itu bukan retorika kosong. Pada hari yang sama dengan pengangkatan Mojtaba, serangan udara AS dan Israel menghantam sejumlah fasilitas minyak di Tehran dan Karaj. Serangan ini memicu kebakaran besar dan kepulan asap tebal, menewaskan sedikitnya empat orang dan menjadi yang pertama kali menyasar infrastruktur energi Iran sejak perang dimulai sembilan hari sebelumnya.

Gelombang serangan yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 telah menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Data dari pejabat setempat menyebutkan lebih dari 1.300 orang tewas di Iran, sekitar 300 di Lebanon, dan selusin lebih di Israel. Serangan sebelumnya pada Sabtu juga telah menargetkan depot dan kilang minyak di berbagai lokasi, meski otoritas Iran menyatakan distribusi bahan bakar tetap berjalan.

Jalan Panjang Menuju Konflik Terbuka

Akar ketegangan ini berlarut-larut, berpusat pada program nuklir Iran yang dianggap AS dan Israel sebagai ancaman. Iran secara konsisten membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir, menegaskan programnya hanya untuk tujuan damai. Upaya diplomasi sebenarnya tetap berjalan, dengan putaran perundingan terakhir digelar di Jenewa pada 26 Februari 2026, difasilitasi Oman. Namun, perundingan itu berakhir tanpa kesepakatan dan rencana pertemuan lanjutan.

Harapan untuk solusi damai akhirnya pupus ketika AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Eskalasi militer ini memutus proses diplomasi, dengan Iran menyatakan menarik diri dari perundingan selama serangan masih berlangsung. Pengangkatan Mojtaba Khamenei kini bukan sekadar suksesi kepemimpinan domestik, melainkan babak baru dalam konflik regional yang justru semakin mengerucut dan penuh ketidakpastian.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar