Investigasi AS Konfirmasi Serangan Rudal Hancurkan Sekolah Dasar di Iran Akibat Data Intelijen Usang

- Kamis, 12 Maret 2026 | 03:00 WIB
Investigasi AS Konfirmasi Serangan Rudal Hancurkan Sekolah Dasar di Iran Akibat Data Intelijen Usang

PARADAPOS.COM - Investigasi internal militer Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa serangan rudal yang menghancurkan sebuah sekolah dasar di Iran dan menewaskan ratusan anak pada akhir Februari lalu diluncurkan oleh AS. Temuan awal menunjukkan kesalahan fatal dalam penentuan target, di mana data intelijen yang sudah usang digunakan untuk menyerang sebuah pangkalan militer, padahal lokasi tersebut telah beralih fungsi menjadi sekolah bertahun-tahun sebelumnya.

Dugaan Kesalahan Data dalam Serangan Mematikan

Berdasarkan temuan para penyelidik, rudal jelajah Tomahawk yang menghantam Sekolah Dasar Shajarah Tayyebah di kota Minab pada 28 Februari itu ditargetkan menggunakan koordinat lama dari Defense Intelligence Agency (DIA). Data tersebut masih mengklasifikasikan bangunan sekolah—yang terletak di blok yang sama dengan fasilitas Angkatan Laut Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC Navy)—sebagai target militer yang sah. Padahal, proses alih fungsi lokasi itu menjadi fasilitas pendidikan telah dimulai lebih dari satu dekade lalu.

Investigasi visual dan citra satelit yang dianalisis oleh media menunjukkan transformasi signifikan di area tersebut antara 2013 hingga 2016. Perubahan itu mencakup pembongkaran menara pengawas militer, pembukaan pintu masuk publik, serta pembangunan area bermain dan lapangan olahraga. Dinding bangunan bahkan dicat dengan warna-warna cerah seperti biru dan merah muda, sebuah tanda yang jelas bahwa tempat itu telah menjadi sekolah.

Proses Verifikasi yang Dipertanyakan

Pertanyaan kritis kini berpusat pada mengapa data yang sudah tidak akurat itu tidak diperbarui atau diverifikasi ulang sebelum digunakan dalam operasi militer. Proses penentuan target AS melibatkan beberapa lembaga, termasuk United States Central Command (CENTCOM) yang melaksanakan serangan, dan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA) yang bertugas menganalisis citra satelit.

Pejabat yang memahami penyelidikan mengungkapkan bahwa dalam dinamika konflik yang bergerak cepat, proses verifikasi yang ketat terkadang terabaikan. Meski begitu, insiden dengan korban sipil dalam skala sebesar ini—pejabat Iran menyatakan sedikitnya 175 orang tewas, sebagian besar anak-anak—telah memicu pemeriksaan mendalam terhadap protokol intelijen dan prosedur operasional militer AS.

Respons Politik dan Kelanjutan Investigasi

Respons dari kalangan politik AS dinilai oleh beberapa pengamat justru memperumit suasana. Presiden Donald Trump sebelumnya sempat menyiratkan kemungkinan Iran bertanggung jawab atas insiden tersebut. Sikap itu menimbulkan kekhawatiran di antara beberapa pejabat mengenai transparansi dan objektivitas penyelidikan internal.

Ketika dikonfirmasi mengenai laporan investigasi awal, Presiden Trump memberikan tanggapan singkat. “Saya tidak tahu soal itu,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berjalan. “Seperti yang diakui oleh The New York Times dalam laporannya sendiri, investigasi ini masih berjalan,” jelas Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih.

Penyelidikan Masih Berusaha Menjawab Misteri

Hingga saat ini, penyelidikan terus berlanjut untuk mengungkap rantai komando dan keputusan yang menyebabkan tragedi ini. Para penyelidik masih berusaha memastikan titik kegagalan yang tepat: apakah pada level pengumpulan data, analisis, atau eksekusi. Insiden ini tidak hanya menjadi catatan kelam operasi militer AS, tetapi juga menyoroti risiko kemanusiaan yang luar biasa ketika prosedur intelijen tidak mampu mengikuti perubahan realitas di lapangan.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar