PARADAPOS.COM - Wilayah utara Israel diguncang serangan roket dan drone besar-besaran pada Rabu malam, 11 Maret 2026, yang dilancarkan oleh kelompok Hizbullah dari Lebanon. Serangan yang melibatkan sekitar 150 proyektil ini memicu gelombang pengungsian warga sipil ke tempat perlindungan dan menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan di perbatasan. Serangan ini terjadi bersamaan dengan tembakan rudal dari Iran, menciptakan situasi keamanan yang kompleks dan memicu respons militer Israel yang gencar.
Gelombang Serangan dan Dampaknya
Suara sirene peringatan terdengar di berbagai kota, termasuk Haifa, Acre, dan komunitas-komunitas di Galilea, saat serangan dimulai sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Gelombang pertama terdiri dari sekitar 100 roket, diikuti dengan tembakan lanjutan yang berlangsung hingga Kamis dini hari. Meski sistem pertahanan udara Israel (Iron Dome dan lainnya) berhasil mencegat banyak proyektil, beberapa di antaranya mencapai sasaran.
Dampak langsung dari serangan ini terlihat di lapangan. Sebuah rumah di kota Bi’ina, utara Israel, terkena hantaman roket. Layanan ambulans Magen David Adom menangani dua korban luka ringan akibat serpihan, sementara empat orang lainnya memerlukan perawatan akibat kecemasan akut. Kebakaran juga dilaporkan terjadi di beberapa lokasi akibat benturan roket.
Klaim dan Respons dari Berbagai Pihak
Hizbullah menyatakan serangan ini sebagai balasan atas serangan Israel terhadap wilayah selatan Lebanon dan pinggiran Beirut. Dari pihak Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan tegas menyatakan koordinasi dalam operasi ini.
"Ini sebagai tanggapan terhadap agresi kriminal terhadap puluhan kota dan desa di Lebanon dan pinggiran selatan Beirut," ungkap kelompok Hizbullah dalam pernyataannya.
Sementara itu, IRGC menggambarkan serangan tersebut sebagai “operasi gabungan dan terintegrasi” dengan Hizbullah. Mereka mengklaim telah meluncurkan sejumlah rudal balistik, sementara sekutu Lebanon mereka menargetkan lebih dari 50 lokasi di Israel dengan drone dan roket.
Namun, otoritas militer Israel pada awalnya menyatakan tidak memiliki indikasi bahwa serangan dari dua front tersebut merupakan aksi terkoordinasi. Pernyataan ini kemudian diperbarui seiring dengan klaim yang disampaikan oleh Tehran.
Eskalasi dan Persiapan yang Telah Diantisipasi
Serangan malam itu tidak sepenuhnya mengejutkan bagi pengamat keamanan regional. Militer Israel (IDF) sebelumnya telah memperingatkan kemungkinan peningkatan intensitas serangan dari Hizbullah. Laporan intelijen yang beredar di media Israel, seperti Channel 12, juga mengisyaratkan antisipasi terhadap serangan besar-besaran dari Iran dan Hizbullah dalam waktu dekat.
Respons Israel datang dengan cepat dan keras. Angkatan Udara Israel melancarkan serangan balasan yang digambarkan sebagai "ekstensif" terhadap pos-pos peluncur roket dan infrastruktur Hizbullah di Lebanon, khususnya di Beirut selatan. Peringatan evakuasi berulang kali disampaikan IDF kepada warga sipil Lebanon di area tersebut.
"Jangan kembali ke pinggiran selatan sampai pemberitahuan lebih lanjut," tegas juru bicara IDF, Kolonel Avichay Adaree, menekankan tingkat bahaya yang dianggap sangat tinggi.
Ketegangan yang Meluas dan Implikasinya
Eskalasi ini memperluas cakupan geografis konflik. Sirene peringatan tidak hanya berbunyi di wilayah utara, tetapi juga terdengar hingga di Tel Aviv dan Yerusalem, dipicu oleh deteksi rudal balistik jarak jauh. Situasi ini memaksa ratusan ribu warga Israel untuk berlindung, menggambarkan tekanan psikologis dan gangguan besar terhadap kehidupan normal.
Peringatan dari pejabat Israel yang menyebut kemungkinan serangan terhadap infrastruktur sipil Lebanon jika pemerintah di Beirut dinilai gagal mengendalikan Hizbullah, menambah dimensi politik yang berisiko tinggi. Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa konfrontasi ini berpotensi memasuki fase yang lebih berbahaya, dengan konsekuensi yang lebih luas bagi stabilitas kawasan.
Artikel Terkait
AS Akui Keliru Abaikan Tawaran Bantuan Anti-Drone Ukraina Jelang Ketegangan dengan Iran
Paus Leo XIV Pecat Uskup San Diego Terkait Dugaan Korupsi dan Skandal Perilaku
Investigasi AS Konfirmasi Serangan Rudal Hancurkan Sekolah Dasar di Iran Akibat Data Intelijen Usang
Pemimpin Baru Iran Belum Tampil, Kondisi Kesehatan Dipertanyakan