PARADAPOS.COM - Angkatan Udara Amerika Serikat telah kehilangan setidaknya tujuh pesawat berawak dalam konflik bersenjata melawan Iran yang berlangsung sekitar satu bulan, menurut laporan media internasional. Kerugian ini mencakup berbagai jenis pesawat, mulai dari jet tempur hingga pesawat pendukung, yang jatuh akibat tembakan musuh, insiden salah sasaran, dan serangan di darat.
Rangkaian Kerugian dalam Satu Bulan
Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah ini telah mencatatkan sejumlah insiden signifikan bagi militer AS. Laporan terbaru menyoroti insiden pada Jumat, 3 April 2026, di mana dua pesawat tempur AS, sebuah F-15 dan sebuah A-10, ditembak jatuh dalam kejadian yang terpisah.
“Jatuhnya dua jet tempur AS dalam satu hari pada hari Jumat meningkatkan jumlah total pesawat berawak AS yang hilang dalam konflik dengan Iran menjadi tujuh,” ungkap laporan tersebut, menggarisbawahi intensitas pertempuran udara dalam periode tersebut.
Insiden Awal dan Salah Sasaran
Gelombang kerugian ini sebenarnya sudah terlihat sejak tahap awal konflik. Pada 2 Maret, misalnya, tiga jet F-15 Eagle milik AS justru ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara sekutu, Kuwait, dalam sebuah tragedi salah sasaran yang memilikan. Seluruh awak yang terdiri dari enam personel berhasil diselamatkan dari insiden tersebut.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian memberikan konfirmasi mengenai kondisi para penerbang. “Seluruh awak yang berisi enam personel berhasil selamat,” jelasnya, seraya menambahkan bahwa para pilot tersebut kini telah kembali menjalankan misi tempur.
Kerugian Pesawat Pendukung dan Serangan Darat
Tidak hanya pesawat tempur, armada pendukung AS juga menjadi sasaran. Insiden fatal terjadi pada 12 Maret, ketika sebuah pesawat tanker KC-135 Stratotanker jatuh di Irak. Kecelakaan ini menewaskan seluruh enam personel militer AS di dalamnya. Otoritas militer menyebut pesawat itu terlibat dalam suatu insiden dengan pesawat lain dalam kerangka Operasi Epic Fury, nama ofensif besar AS terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari.
Lebih lanjut, pada 27 Maret, kapabilitas pengintaian AS juga mendapat pukulan. Sebuah pesawat peringatan dini dan pengendali E-3 Sentry dilaporkan hancur di darat akibat serangan rudal Iran yang menargetkan Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi. Serangan itu tidak hanya menghancurkan aset strategis tersebut, tetapi juga melukai setidaknya sepuluh personel militer AS, meski korban jiwa berhasil dihindari.
Pendaratan Darurat F-35 dan Situasi Terkini
Di luar daftar kerugian total, konflik ini juga mencatat insiden yang hampir berakibat lebih buruk. Sebuah jet tempur siluman generasi kelima F-35 Lightning II terpaksa melakukan pendaratan darurat di sebuah pangkalan militer di wilayah Timur Tengah setelah mengalami kerusakan akibat tembakan yang diduga berasal dari pertahanan udara Iran. Insiden ini menyoroti kerentanan bahkan aset paling canggih dalam lingkungan pertempuran yang padat ancaman.
Rangkaian kejadian dalam sebulan terakhir ini menggambarkan dinamika konflik udara yang kompleks dan berisiko tinggi, di mana kerugian tidak hanya datang dari pertempuran langsung dengan lawan, tetapi juga dari risiko operasional dan insiden di tengah ketegangan yang mencekam.
Artikel Terkait
Iran Klaim Temukan Barang Pribadi Pilot AS dari F-15E yang Ditembak Jatuh
AS dan Iran Klaim Berseberangan Soal Hasil Operasi Penyelamatan Pilot di Isfahan
Presiden Prabowo Kecam Serangan yang Tewaskan Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Analis Sejarah Peringatkan Risiko Eskalasi Konflik Timur Tengah ke Skala Global