Tan Sri Rais Yatim Tegur Keras Mendagri Tito: Bukan Nilai Nominal, Tapi Niat Bantuan yang Utama
PARADAPOS.COM - Pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengenai bantuan Malaysia untuk korban bencana di Aceh menuai reaksi keras dari mantan Menteri Luar Negeri (Menlu) Malaysia, Tan Sri Rais Yatim.
Dalam sebuah video yang viral di media sosial, Rais Yatim menyatakan kekecewaannya dan menilai pernyataan Tito tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat tinggi negara.
Inti Kritik Rais Yatim: Etika Diplomasi dan Makna Bantuan
Rais Yatim menegaskan bahwa bantuan kemanusiaan harus dinilai dari niat tulus dan manfaatnya bagi penerima, bukan semata-mata dari besaran nilai nominalnya. Ia meminta Mendagri Tito untuk memperbaiki cara berkomunikasi, terutama dalam hal yang menyangkut hubungan diplomatis dengan negara tetangga.
"Dengan pernyataan publik yang menunjukkan kepada dunia bahwa Malaysia hanya berkontribusi sedikit dalam bentuk 60 ribu USD, menteri yang bersangkutan diharapkan untuk belajar terlebih dahulu dalam hal ucapan, komunikasi, atau bahasa kepada tetangga," ujar Tan Sri Rais Yatim, seperti dikutip pada Sabtu, 20 Desember 2025.
Siapa Tan Sri Rais Yatim? Profil dan Karier Politik
Teguran ini mengangkat nama Tan Sri Rais Yatim ke sorotan publik Indonesia. Sosok ini ternyata memiliki hubungan darah dengan Indonesia. Kedua orang tuanya berasal dari suku Minangkabau, Sumatera Barat.
Jejak Karier Politik Penting di Malaysia
Pria kelahiran Jelebu tahun 1942 ini memiliki catatan karier politik yang panjang dan gemilang di Malaysia. Beberapa jabatan strategis yang pernah dipegangnya antara lain:
- Menteri di Departemen Perdana Menteri
- Menteri Besar Negeri Sembilan (1978 - 1982)
- Menteri Luar Negeri (1986-1987 dan 2008-2009)
- Menteri Penerangan (1984-1986 dan 2010-2013)
- Menteri Tanah dan Pembangunan Daerah (1982-1984)
Pada Juni 2007, Rais bahkan dinominasikan sebagai calon Sekretaris Jenderal Persemakmuran. Kiprahnya kembali aktif setelah diangkat menjadi Senator di Dewan Negara pada 16 Juni 2020.
Insiden ini menyoroti pentingnya sensitivitas dan etika dalam komunikasi diplomatis, bahkan dalam konteks membahas bantuan kemanusiaan. Respons Rais Yatim mendapat banyak dukungan dari publik yang menilai substansi bantuan tidak boleh direduksi hanya menjadi angka.
Artikel Terkait
Investor Unggul Metro Timur Indonusa Suntik Dana ke Otto Media Grup untuk Dukung Branding Startup
Dokumen Bocor Ungkap Alokasi Dana Soros Rp28 Triliun untuk Program Demokrasi di Indonesia
Pengamat Pertanyakan Implikasi Restorative Justice Rismon Sianipar terhadap Kasus Ijazah Palsu
BGN Bekukan Dua Dapur Makan Bergizi Gratis di Ponorogo Diduga Manipulasi Anggaran