PARADAPOS.COM - Analisis politik terkini mempertanyakan alasan di balik dukungan kuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode kepemimpinan sejak awal. Pengamat menilai langkah ini bukan sekadar dukungan politik biasa, melainkan sebuah strategi jangka panjang yang dirancang untuk mempertahankan pengaruh dan mengamankan posisi keluarga dalam peta kekuasaan nasional, terlepas dari berbagai interpretasi yang beredar di kalangan elite.
Strategi Pengaruh dan Pengendalian
Motif pertama yang banyak dikemukakan adalah keinginan Jokowi untuk memastikan Prabowo Subianto tetap berada dalam lingkaran pengaruhnya. Dengan mendorong pasangan tersebut sejak dini, Jokowi dianggap ingin mengarahkan atau bahkan "mendikte" jalannya pemerintahan mendatang agar tidak keluar dari koridor yang diinginkannya dan keluarganya. Hal ini mencerminkan kekhawatiran klasik dalam politik tentang loyalitas yang dapat memudar seiring dengan pergeseran kekuasaan.
Kedua, terdapat narasi bahwa Jokowi ingin terus diingat sebagai pihak yang berjasa atas terpilihnya Prabowo. Dalam analisis ini, suara rakyat ditempatkan sebagai faktor pendukung, sementara peran Jokowi-lah yang dianggap sebagai faktor penentu utama. Presiden yang akan segera lengser ini dinilai sadar betul bahwa kekuasaan seringkali membuat orang melupakan jasa para pendukungnya.
Menyiapkan Posisi dan Narasi
Motif ketiga bersifat lebih taktis, yakni mempersiapkan posisi sebagai pihak yang "terzalimi" jika kelak Prabowo memilih untuk tidak lagi menggandeng Gibran sebagai calon wakil presiden pada periode kedua. Posisi korban seperti ini secara politis dapat menguntungkan, karena memudahkan Jokowi untuk membangun narasi dan mengambil momentum guna mendongkrak posisi politik Gibran maupun partai pendukungnya di kemudian hari.
Namun, ada pula skenario keempat yang justru menggambarkan Jokowi dari sisi yang berbeda. Dalam skenario ini, sekalipun Prabowo tidak lagi memilih Gibran, Jokowi bisa mengambil posisi sebagai figur yang legawa dan berjiwa besar dengan tetap mendukung Prabowo. Posisi ini, meski terlihat mengalah, tetap menguntungkan karena menjaga kebersamaan untuk tujuan yang lebih luas, sambil mempertahankan pengaruh di balik layar.
Beragam Interpretasi di Kalangan Pengamat
Berbagai analisis ini memicu perdebatan di kalangan pengamat dan aktor politik. Narasi pertama tentang keinginan Jokowi untuk terus membayangi pemerintahan Prabowo banyak disuarakan oleh pihak-pihak yang berseberangan secara politik dengan Presiden. Mereka melihat ambisi dinasti yang tidak mengenal kata 'cukup' sebelum kekuasaan benar-benar berpindah ke tangan anaknya.
Sementara itu, tesis kedua dan ketiga—tentang jasa Jokowi dan potensi "pengkhianatan" Prabowo—lebih banyak digaungkan oleh kalangan pendukung setia Jokowi. Mereka berasumsi bahwa Prabowo menyadari utang budinya dan tidak akan mengambil risiko untuk berbalik arah.
Adapun skenario keempat, yang menggambarkan Jokowi sebagai pragmatis sejati, diungkapkan oleh pengamat politik Hasan Nasbi. Ia memberikan perspektif bahwa Jokowi adalah seorang kalkulator yang hati-hati.
"Jokowi tak akan masuk dalam sebuah peperangan atau kontestasi, kalau peluang menangnya tipis atau malah tak ada sama sekali," jelasnya.
Lebih lanjut, Nasbi mengibaratkan strategi Presiden dengan prinsip-prinsip klasik peperangan. "Jokowi dikatakannya penganut Sun Tzu sejati. Menang dulu baru masuk pertempuran. Fifty-fifty pun Jokowi tak akan masuk pertempuran," tuturnya.
Dengan demikian, terlepas dari motif mana yang paling mendekati kebenaran, langkah politik Jokowi ini dipandang sebagai sebuah manuver yang dirancang sedemikian rupa untuk selalu memberinya keuntungan dan menjaga relevansinya, baik untuk masa kini maupun masa depan keluarganya dalam percaturan politik Indonesia.
Artikel Terkait
Pemkot Denpasar Tanggung Biaya BPJS untuk 24 Ribu Warga Terdampak Kebijakan Pusat
Pemerintah Beri Masa Transisi 3 Bulan untuk 11 Juta Penerima BPJS yang Dinonaktifkan
Polisi Selidiki Dugaan Aksi Mesum Penumpang di Mobil Taksi Online Cipulir
Polres Blora Rencanakan Penyitaan Dua Ponsel sebagai Barang Bukti Kasus Kucing Ditendang