Turis Rusia Dicekik di Uluwatu Diduga Akibat Pelecehan Seksual

- Rabu, 01 April 2026 | 07:25 WIB
Turis Rusia Dicekik di Uluwatu Diduga Akibat Pelecehan Seksual

PARADAPOS.COM - Sebuah video yang menunjukkan seorang turis asing dicekik hingga nyaris pingsan oleh warga lokal di Uluwatu, Bali, menjadi sorotan luas di media sosial. Insiden yang terjadi pada Rabu (1/4/2026) itu berawal dari dugaan pelecehan seksual yang dilakukan turis asal Rusia tersebut terhadap seorang wanita dalam keadaan mabuk. Rekaman kejadian memicu perdebatan mengenai batas tindakan swadaya masyarakat dan etika wisatawan di destinasi populer tersebut.

Dugaan Pelecehan yang Memicu Aksi Kekerasan

Dalam video yang beredar, terlihat seorang pria lokal bernama Belda Brig Sando—seorang petarung dan pemilik sasana bela diri—menahan turis Rusia yang tak berbaju di jalanan. Sando mencekik leher pria itu hingga wajahnya memerah dan ia tampak kehilangan kesadaran. Suasana di lokasi tegang, dengan sejumlah warga dan turis lain mengerumuni tempat kejadian.

“Hormati warga lokal!” teriak Sando dalam video tersebut, yang ditujukan kepada turis yang sudah tak berdaya.

Salah seorang saksi sempat berusaha meredakan situasi dengan menyatakan bahwa turis tersebut sudah pingsan. Namun, Sando bersikukuh dengan tindakannya, dengan alasan yang ia anggap kuat.

Alasan di Balik Tindakan Keras

Belda Brig Sando memberikan penjelasan mengenai apa yang memicunya bertindak. Menurutnya, emosinya terpancing setelah melihat perilaku turis itu yang dinilai telah melampaui batas kewajaran.

“Dia mabuk, menyentuh seorang perempuan, dan tidak menghormati siapa pun,” ujarnya.

Setelah beberapa saat, cekikan akhirnya dilepaskan. Turis itu sempat tergeletak tak bergerak sebelum siuman. Dalam kondisi masih linglung, pria tersebut terdengar meminta maaf dan mengaku berasal dari Rusia.

“Aku mengerti, aku mengerti,” ucap si bule terbata-bata.

Klarifikasi dan Permintaan Maaf dari Pelaku Pencekikan

Merespons viralnya video tersebut, Sando menyampaikan klarifikasi melalui platform media sosial. Ia mengakui bahwa tindakannya dilatarbelakangi emosi, namun menegaskan bahwa dirinya bukan pihak yang memulai konflik.

“Dia mabuk, menyentuh orang, bahkan menampar kepala orang lain seolah itu hal normal. Tidak ada yang bereaksi sampai dia menyentuh teman saya. Saat itulah saya turun tangan,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas cara penanganannya yang dinilai berlebihan, seraya menekankan pesan inti tentang pentingnya sikap saling menghormati.

“Saya mungkin salah, dan saya minta maaf. Tapi dia yang melewati batas terlebih dahulu,” tambahnya.

Konteks yang Lebih Luas: Tantangan Pariwisata Bali

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap sejumlah kasus pelanggaran yang melibatkan wisatawan asing di Bali, terutama di kawasan hiburan malam. Beberapa kejadian serupa, mulai dari perkelahian hingga pelanggaran norma sosial, telah viral sebelumnya dan memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap citra dan ketertiban umum.

Menyikapi tren ini, Pemerintah Provinsi Bali telah meluncurkan berbagai kampanye edukasi bagi wisatawan. Kampanye ini dirancang untuk menyampaikan panduan etika dan aturan yang berlaku selama berkunjung ke Pulau Dewata.

Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menjaga keberlanjutan pariwisata yang selaras dengan nilai budaya setempat.

“Ini untuk memastikan pariwisata Bali tetap menghormati, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai-nilai lokal,” ungkap Koster.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar