PARADAPOS.COM - Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengingatkan Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi permainan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat oleh kelompok oligarki. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Majelis Sabtu di Kantor KBPII, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 6 Juni 2026. Fuad mengaitkan pelemahan Rupiah saat ini dengan pola yang pernah terjadi menjelang krisis ekonomi era reformasi, di mana ia menduga ada tekanan sistematis dari lembaga internasional dan aktor domestik yang bertujuan mempertahankan pengaruh terhadap pemerintahan.
Suasana di ruang pertemuan kantor KBPII sore itu tampak hening saat Fuad mulai menguraikan pengalamannya mengelola fiskal negara di masa-masa sulit. Ia tidak sekadar bicara teori, melainkan merujuk langsung pada gejolak yang ia saksikan sendiri menjelang jatuhnya Presiden Soeharto. Menurutnya, tekanan dari lembaga internasional dan kebijakan suku bunga tinggi saat itu menjadi pemicu utama yang melumpuhkan sektor perbankan.
Krisis 1998 dan Pola yang Berulang
Fuad menjelaskan bahwa krisis moneter 1998 tidak bisa dilepaskan dari permainan kurs yang terstruktur. Ia mencontohkan bagaimana kebijakan suku bunga yang dinaikkan secara drastis justru memperparah kondisi perbankan nasional.
"Bunganya ditinggikan, bank makin sekarat. Orang sudah nggak bisa bayar. Proyek berhenti, pengangguran jadi," ungkapnya dalam siaran ulang yang diunggah di YouTube pada Minggu, 7 Juni 2026.
Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan era Presiden B.J. Habibie. Menurut Fuad, setelah tujuan politik tertentu tercapai, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar kembali menguat secara signifikan. Hal ini, menurutnya, mengindikasikan adanya intervensi yang tidak semata-mata berbasis fundamental ekonomi.
"Setelah tujuan menjatuhkan tercapai, Rupiah dikuatkan lagi," tegasnya.
Ancaman bagi Pemerintahan Prabowo
Dari pengalaman historis itu, Fuad memandang ada permainan besar yang dilakukan oleh kelompok elite ekonomi atau oligarki untuk mempertahankan pengaruh mereka terhadap pemerintahan. Ia menilai stabilitas Rupiah menjadi medan pertarungan yang krusial.
Namun, ia menyatakan optimismenya terhadap pemerintahan Prabowo yang dinilai serius melakukan pembenahan ekonomi. Menurut Fuad, jika upaya pembenahan ini berhasil, maka posisi oligarki akan terancam. Sebaliknya, jika mereka berhasil menggoyang Rupiah, risiko bagi stabilitas pemerintahan akan sangat besar.
"Kalau berhasil (melakukan pembenahan ekonomi), ini ancaman buat mereka (oligarki). Sebaliknya, kalau mereka berhasil menggoyang Rupiah, ini bahaya untuk Prabowo," tuturnya.
Usulan Konsolidasi Devisa dan Kritik Tata Kelola SDA
Untuk memperkuat ketahanan nilai tukar, Fuad mencontohkan kebijakan Arab Saudi yang menopang stabilitas mata uangnya melalui arus devisa ekspor yang terkonsolidasi penuh. Ia mengusulkan agar hasil ekspor Indonesia lebih banyak masuk ke sistem keuangan nasional guna meningkatkan cadangan dolar.
Meski demikian, ia mengkritik tata kelola sumber daya alam yang masih carut marut. Ia mendapati banyak hasil ekspor komoditas yang tidak tercatat penuh di dalam negeri akibat praktik transfer harga atau penjualan melalui negara ketiga.
"Padahal kekayaan alam ini harus dikuasai negara sesuai Pasal 33 (UUD 1945)," demikian Fuad menambahkan.
Artikel Terkait
Buronan Curanmor Tewas Ditembak Polisi di Lampung Timur, Keluarga Tuduh Ada Penganiayaan
PDIP Sejak Awal Curiga Ada Kejanggalan di Program Makan Bergizi Gratis
Istri Anggota Bareskrim Jadi Korban Ancaman Pembunuhan di Rumah Sendiri, Pelopor Laporan Dicabut
Kejagung Tetapkan Tiga Mantan Petinggi BGN Tersangka Korupsi Pengadaan Motor Listrik Rp1 Triliun