Nazlira menyebut, langkah politik Prabowo tidak akan pernah mendapat dukungan utuh dari rakyat selama masih ada bayang-bayang Jokowi di lingkar kekuasaan.
“Selama kabinet masih diisi oleh loyalis Jokowi, selama keputusan strategis negara masih terpengaruh oleh kroni masa lalu, maka Prabowo tak akan pernah benar-benar menjadi presiden penuh,” tegasnya.
Data survei terbaru memperkuat argumen itu. Lebih dari 78% responden menyatakan setuju jika Presiden Prabowo mengambil langkah ekstrem untuk membersihkan pemerintahannya dari pengaruh Jokowi, termasuk dengan membuka penyelidikan hukum atas dugaan penyimpangan kekuasaan di periode sebelumnya.
Masyarakat melihat bahwa reformasi sejati hanya bisa dimulai setelah ada penegakan hukum yang menyentuh akar masalah.
“Mengadili Jokowi bukan sekadar balas dendam politik, tapi langkah hukum untuk menegaskan bahwa tidak ada satu pun pemimpin yang kebal dari pertanggungjawaban,” ujar Nazlira.
Dia menambahkan, gerakan bersih-bersih bukan hanya menyasar figur lama, tapi juga menyaring ulang siapa saja yang layak duduk di kabinet.
“Sudah saatnya Prabowo memilih menteri-menteri yang bukan sekadar bisa bekerja, tapi juga bersih dari beban masa lalu. Karena masa depan hanya bisa dibangun oleh orang-orang yang benar-benar bebas.”
Di titik ini, Prabowo bukan lagi hanya seorang presiden.
Ia menjadi simbol harapan bahwa Indonesia bisa pulih dan bangkit, asal ada keberanian untuk menyapu bersih warisan kelam yang masih menyelinap dalam setiap sudut kekuasaan.
“Ini bukan sekadar momen, ini adalah momentum,” tutup Nazlira.
Sumber: SuaraNasional
Artikel Terkait
Kisah Pilu Sudrajat: Rumah Ambrol & 3 Anak Putus Sekolah di Bogor, Begini Kondisinya
Kisah Sudrajat: Rumah Jebol & 3 Anak Putus Sekolah di Bogor, Ini Bantuan yang Diberikan
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Cederai HAM?
Amnesty Internasional Kritik Indonesia Gabung Dewan Perdamaian AS: Ancam Hukum Internasional?