Dikira Pejabat, Mobil Mewah BMW di Semanggi Diamuk Massa

- Jumat, 29 Agustus 2025 | 14:50 WIB
Dikira Pejabat, Mobil Mewah BMW di Semanggi Diamuk Massa


PARADAPOS.COM -
 Mobil mewah BMW yang dikendarai seorang sopir menjadi sasaran amuk massa aksi Polda Metro Jaya saat melewati jalan di bawah Jembatan Semanggi, Jakarta, Jumat (29/8/2025) pukul 19.40 WIB. Massa aksi mengira mobil itu milik pejabat.

Dari pantauan Republika, tampak kaca mobil rusak dan pecah, baik itu dari sisi samping depan dan belakang. Massa pun berkerumun di sekitar mobil sambil berseru-seru.

"Udah tinggalin--tinggalin," ujar seorang demonstran ke sopir tersebut.

Sementara itu, demonstran lain memintar agar pengunjuk rasa menahan diri. "Woy uda woy," serunya.

Sopir yang masih berusia remaja itu kemudian diamankan dari massa. Ia keluar dari mobil ke tempat yang lebih aman. 

Aksi demonstrasi di Markas Polda Metro Jaya masih berlanjut hingga Jumat (29/8/2025) malam pukul 20.24 WIB. Aparat kepolisian terus menembaki demonstran yang bertahan melawan serangan polisi.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id di lokasi, aksi demonstrasi ini berlangsung sejak pukul 14.30 WIB. Demonstran mengepung Markas Polda dengan melakukan aksi di pintu masuk Gatot Subroto dan pintu utama Polda di Jalan Jenderal Sudirman.

Meskipun diguyur hujan deras pada pukul 18.04 WIB, ratusan massa aksi berteduh. Setelah hujan mulai reda, mahasiswa dan driver ojol pun kembali ke gerbang utama dan aksi pun mulai memanas. Api di depan gerbang Mapolda terus membesar.

Pada pukul 18.39 WIB, massa aksi pun mulai menembakkan kembang api dan bom molotov ke dalam Mapolda. Sementara, aparat kepolisian meresponnya dengan menembakkan gas air mata ke tengah massa aksi.

Massa aksi pun kocar kacir berlarian di tengah hujan gerimis. Hingga habis Isya, beberapa massa aksi pun kembali ke depan gerbang utama Mapolda Jaya. Hingga pukul 20.37 WIB, polisi masih terdengar menembakkan gas air mata ke demonstran.

Demonstrasi dipicu oleh kematian seorang driver ojol yang dilindas oleh kendaraa taktis milik Brimob pada hari sebelumnya. 

Sumber: republika

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

JOKO Widodo alias Jokowi sudah lengser. Tak lagi punya kekuasaan. Presiden bukan, ketua partai juga bukan. Di PDIP, Jokowi pun dipecat. Jokowi dipecat bersama anak dan menantunya, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobbby Nasution. Satu paket. Anak bungsu Jokowi punya partai, tapi partainya kecil. Yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Partai gurem ini tidak punya anggota di DPR RI. Di Pemilu 2024, partai yang dipimpin Kaesang ini memperoleh suara kurang dari empat persen. Pada posisi seperti ini, apakah Jokowi lemah? Jangan buru-buru menilai bahwa Jokowi lemah. Lalu anda yakin bisa penjarakan Jokowi? Sabar! Semua ada penjelasan ilmiahnya. Semua ada hitung-hitungan politiknya. Manusia satu ini unik. Lain dari yang lain. Langkah politiknya selalu misterius. Tak mudah ditebak. Publik selalu terkecoh dengan manuvernya. Anda tak pernah menyangka Gibran jadi walikota, lalu jadi wakil presiden sebelum tugasnya sebagai walikota selesai. Anda tak pernah menyangka Kaesang jadi ketum PSI. Prosesnya begitu cepat. Tak ada yang prediksi Airlangga Hartarto mundur mendadak dari ketum Golkar. Anda juga tak pernah menyangka suara PDIP dan Ganjar Pranowo dibuat seragam yaitu 16 persen di Pemilu 2024. Persis sesuai yang diinginkan Jokowi. Anda nggak pernah sangka UU KPK direvisi. UU Minerba diubah. Desentralisasi izin tambang diganti jadi sentralisasi lagi. Omnibus Law lahir. IKN dibangun. PIK 2 jadi PSN. Bahkan rektor universitas dipilih oleh menteri. Ini out of the box. Nggak pernah ada di pikiran rakyat. Tapi, semua dengan begitu mudah dibuat. Mungkin anda nggak pernah berpikir mobil Esemka itu bodong. Anda juga nggak pernah menyangka ketua FPI dikejar dan akan dieksekusi oleh aparat di jalanan. Juga nggak pernah terlintas di pikiran ada Panglima TNI dicopot di tengah jalan. Ini semua adalah langkah out of the box. Tak pernah terlintas di kepala anda. Di kepala siapa pun. Ketika anda berpikir Jokowi melemah pasca lengser, ternyata orang-orang Jokowi masuk kabinet. Jumlahnya masih cukup banyak dan signifikan. Ketua KPK, Jaksa Agung dan Kapolri sekarang adalah orang-orang yang dipilih di era Jokowi. Ketika anda tulis Adili Jokowi di berbagai tempat, Kaesang, anak Jokowi justru pakai kaos putih bertuliskan Adili Jokowi. Pernahkah Anda menyangka ini akan terjadi? Teriakan Adili Jokowi kalah kuat gaungnya dengan teriakan Hidup Jokowi. Ini tanda apa? Jelas: Jokowi masih kuat dan masih punya kesaktian. Semoga pemimpin zalim seperti Jokowi Allah hancurkan. inilah doa sejumlah ustaz yang seringkali kita dengar. Apakah Jokowi hancur? Tidak! Setidaknya hingga saat ini. Esok? Nggak ada yang tahu. Dan kita bukan juru ramal yang pandai menebak masa depan nasib orang. Kalau cuma 1.000 sampai 2.000 massa yang turun ke jalan untuk adili Jokowi, nggak ngaruh. Ngaruh secara moral, tapi gak ngaruh secara politik. Beda kalau satu-dua juta mahasiswa duduki KPK, itu baru berimbang. Emang, selain 1998, pernah ada satu-dua juta mahasiswa turun ke jalan? Belum pernah! Massa mahasiswa, buruh dan aktivis saat ini belum menemukan isu bersama. Isu Adili Jokowi tidak terlalu kuat untuk mampu menghadirkan satu-dua juta massa. Kecuali ada isu lain yang menjadi triggernya. Contoh? Gibran ngebet jadi presiden dan bermanuver untuk menggantikan Prabowo di tengah jalan, misalnya. Ini bisa memantik kemarahan massa untuk terkonsentrasi kembali pada satu isu. Contoh lain: ditemukan bukti yang secara meyakinkan mengungkap kejahatan dan korupsi Jokowi, misalnya. Ini bisa jadi trigger isu. Ini baru out of the box vs out of the box. Tagar Adili Jokowi bisa leading. Kalau cuma omon-omon, ya cukup dihadapi oleh Kaesang yang pakai kaos Adili Jokowi. Demo Adili Jokowi lawannya cukup Kaesang saja. Jokowi terlalu tinggi untuk ikut turun dan menghadapinya. Sampai detik ini, Jokowi masih terlalu perkasa untuk dihadapi oleh 1.000-2.000 massa yang menuntutnya diadili. rmol.id *Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Terkini