Whoosh vs Saudi Land Bridge: Investasi Kereta Cepat Indonesia Kok Lebih Mahal dari Arab?

- Minggu, 26 Oktober 2025 | 14:50 WIB
Whoosh vs Saudi Land Bridge: Investasi Kereta Cepat Indonesia Kok Lebih Mahal dari Arab?

Perbandingan Nilai Investasi Whoosh vs Saudi Land Bridge: Mengapa Proyek Indonesia Lebih Mahal?

Proyek kereta cepat Jakarta–Bandung, Whoosh, menjadi sorotan setelah diketahui nilai investasinya jauh lebih besar dibandingkan proyek kereta api Saudi Land Bridge di Arab Saudi yang panjang lintasannya sepuluh kali lipat. Isu ini memicu perdebatan publik mengenai efisiensi dan transparansi pengelolaan proyek infrastruktur nasional.

Data Investasi: Whoosh vs Saudi Land Bridge

Kereta Cepat Whoosh dengan panjang lintasan 142 kilometer menelan investasi sebesar USD 7,27 miliar atau setara Rp120,6 triliun. Sementara itu, proyek Saudi Land Bridge yang membentang 1.500 km dari Jeddah ke Dammam hanya membutuhkan biaya USD 7 miliar atau sekitar Rp116 triliun. Fakta ini menunjukkan bahwa proyek di Indonesia secara nominal lebih mahal untuk jarak yang jauh lebih pendek.

Mengapa Biaya Whoosh Lebih Tinggi?

Beberapa faktor kompleks menyebabkan tingginya biaya investasi Whoosh:

  • Tantangan Geografis: Lintasan Whoosh melalui daerah dengan kontur pegunungan dan wilayah padat penduduk, yang meningkatkan kompleksitas dan biaya konstruksi.
  • Pembebasan Lahan: Proses pembebasan lahan di kawasan padat seperti Jakarta dan Bandung membutuhkan biaya yang signifikan.
  • Integrasi Infrastruktur: Whoosh mencakup pengembangan kawasan transit seperti Stasiun Tegalluar dan Halim, serta investasi teknologi kereta cepat pertama di Asia Tenggara.
  • Pembengkakan Biaya (Cost Overrun): Terjadi pembengkakan biaya sekitar USD 1,2 miliar dari rencana awal, yang menyebabkan PT KAI menanggung utang ke China Development Bank.

Dampak dan Tantangan Whoosh Ke Depan

Meski dinilai mahal, Keberadaan Whoosh telah membawa dampak positif, terutama dalam memangkas waktu tempuh Jakarta-Bandung menjadi hanya 36 menit. Sektor pariwisata, perhotelan, dan UMKM di sekitar stasiun mulai merasakan dampak ekonominya.

Namun, tantangan utama adalah mencapai break even point (BEP) melalui peningkatan okupansi penumpang dan integrasi dengan moda transportasi lainnya. Pemerintah juga menegaskan bahwa pembayaran utang proyek tidak akan menggunakan dana APBN, melainkan melalui manajemen Danantara dan opsi transformasi aset.

Kesimpulan

Perbandingan investasi Whoosh dan Saudi Land Bridge tidak bisa dilihat dari angka dan panjang lintasan saja. Perbedaan biaya dipengaruhi oleh kondisi geografis, teknologi, dan tantangan pembebasan lahan yang unik di Indonesia. Keberhasilan Whoosh ke depan akan diukur dari seberapa besar manfaat ekonominya bagi masyarakat dan kemampuannya menjadi katalis pembangunan berkelanjutan.

Sumber: hukamanews.com

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar