Analisis Dino Patti Djalal: Gerakan Gibran 2 Periode Picu Konflik Politik
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal, memberikan analisis tajam terkait munculnya gerakan Gibran 2 periode. Menurutnya, wacana ini berpotensi memicu gejolak konflik baik antar partai politik maupun secara individual.
Bukan dari Hambalang, Tapi dari Solo
Dalam analisis yang dibagikan melalui akun Instagram pribadinya, Dino menyatakan bahwa upaya melenggangkan Gibran untuk dua periode bukan berasal dari pihak Hambalang, melainkan dari pihak Solo. Ia menilai gerakan ini justru akan merugikan Gibran sendiri.
"Saya berpandangan bahwa gerakan Gibran Wapres 2 periode ini bukan saja prematur tapi justru akan merugikan Gibran sendiri," ujar Dino.
Prabowo dan Kontrak Politik Hingga 2029
Dino berpandangan bahwa Prabowo Subianto tidak ingin diseret dalam kisruh kepemimpinan dua periode. Terlebih, Prabowo sebagai pemimpin negara yang berwenang menunjuk pendampingnya masih baru menjabat selama satu tahun. Gerakan ini dinilai lebih diinisiasi untuk kepentingan politik Gibran.
Sentimen antar partai politik pun tidak terhindarkan. Dino menjelaskan bahwa partai politik berpotensi mengalami konflik antara pendukung Gibran dan Prabowo, mengingat telah ada kontrak politik yang disepakati hingga 2029 untuk mendukung kinerja keduanya.
Potensi Kerenggangan di Tubuh Kabinet
Alih-alih bekerja sama, kekompakan partai politik di tubuh Kabinet Merah Putih justru berpotensi merenggang. Banyak parpol yang tidak mau hasil kerja kerasnya digunakan untuk memenangkan ambisi Gibran 2 periode.
Gerakan ini diibaratkan pisau bermata dua karena dapat merugikan Gibran sendiri. Sepanjang empat tahun ke depan, publik akan menilai setiap tindakan Gibran sebagai manuver untuk meraih hati masyarakat demi melenggang ke periode kedua.
Strategi Prabowo dan Konsensus Nasional
Dino juga menyinggung strategi Prabowo menggaet Gibran di era kampanye yang bertujuan mencegah Jokowi masuk jajaran Megawati dan Ganjar. Namun pada 2029, Prabowo diprediksi tak lagi mendapat suara dari parpol Jokowi seiring memudarnya eksistensi Jokowi.
Lebih lanjut, Dino menyebut adanya konsensus nasional tidak resmi bahwa berbagai kalangan—mulai dari purnawirawan TNI, birokrasi, parpol, hingga mahasiswa—paling tidak menginginkan prospek Gibran menjadi presiden sebelum periode sekarang berakhir.
Saran untuk Gibran: Fokus Kerja Nyata
Dino menegaskan, jika Gibran ingin menjabat wakil presiden dua kali berturut-turut, maka harus lebih hebat dari para pendahulunya seperti Bung Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono, hingga Yusuf Kalla.
Ia menyarankan agar Gibran fokus bekerja keras membangun kepercayaan publik dengan menghasilkan kerja nyata yang berdampak bagi masyarakat dan negara.
"Itu aset yang paling besar dalam politik dan ini hanya bisa dilakukan dengan ketulusan dan konsistensi. Bukan dengan gimmick, bukan dengan lagu yang memuja diri sendiri," pungkas Dino.
Artikel Terkait
Video Viral Ibu Tiri vs Anak Tiri Picu Perdebatan Norma di Media Sosial
Pemuda Tewas Dibunuh di Kamar Penginapan Medan, Jenazah Dibuang ke Sungai
Polisi Usut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS, DPR Desak Penanganan sebagai Percobaan Pembunuhan
Menteri Keuangan Buka Opsi Naikkan Batas Defisit APBN di Atas 3 Persen