Golkar Tahan Sikap untuk Pilpres 2029, Utamakan Konsolidasi di Pemerintahan Prabowo

- Senin, 09 Februari 2026 | 04:00 WIB
Golkar Tahan Sikap untuk Pilpres 2029, Utamakan Konsolidasi di Pemerintahan Prabowo

PARADAPOS.COM - Partai Golkar, di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, sengaja menahan diri untuk tidak terburu-buru menentukan sikap dukungannya pada Pilpres 2029. Langkah strategis ini, menurut analisis para pengamat, bertujuan untuk menjaga posisi partai di pusat kekuasaan pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini, sekaligus mempertahankan akses dan fleksibilitas politik menghadapi dinamika lima tahun ke depan.

Strategi Menjaga Posisi di Pusat Kekuasaan

Pernyataan berulang Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, tentang komitmen mengawal pemerintahan hingga akhir masa jabatan, bukan sekadar retorika kosong. Analisis politik melihatnya sebagai manuver yang disengaja untuk mencari posisi paling aman. Dalam situasi internal partai yang kini relatif stabil, setelah isu pergantian kepemimpinan (munaslub) mereda, Golkar tampak fokus untuk mengonsolidasi pengaruhnya.

Efriza, Pengamat Politik dari Citra Institute, melihat pola kehati-hatian dalam setiap langkah Bahlil. Menurutnya, pernyataan politik ketua umum tersebut dirancang untuk menghindari polemik sekaligus menjaga citra Golkar sebagai partai yang adaptif.

“Bahlil lebih memilih menjaga akses ke lingkaran kekuasaan yang dipimpin Prabowo. Apalagi, posisi Golkar saat ini sedang menguat setelah isu munaslub terhadap Bahlil berhasil dipadamkan,” tutur Efriza kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 9 Februari 2026.

Fleksibilitas dan Pertimbangan Jangka Panjang

Di balik sikap itu, tersimpan pertimbangan yang lebih kompleks. Menjaga hubungan baik dengan pemerintahan saat ini adalah prioritas, namun Golkar juga perlu mempertimbangkan peta politik yang akan terbentuk menjelang 2029. Sikap yang terlalu cepat berpihak justru berpotensi mempersempit ruang gerak dan memicu persepsi yang tidak diinginkan.

Efriza, yang juga merupakan Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS), menambahkan bahwa strategi ini juga berfungsi menjaga keseimbangan hubungan dengan kekuatan politik lain di luar istana.

“Pernyataan Bahlil merupakan bentuk retorika dukungan sekaligus pengulangan sikap resmi partai sebagaimana diputuskan dalam Munas. Ini dilakukan untuk menjaga fleksibilitas politik, baik bagi dirinya sebagai ketua umum maupun bagi Golkar agar tetap dinilai adaptif,” jelasnya.

Menghindari Jebakan Loyalitas

Langkah hati-hati Golkar ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk tidak terjebak dalam narasi dukungan yang dikotomis. Dalam dinamika politik nasional, partai besar seperti Golkar harus cermat membaca arah angin tanpa terlihat terlalu condong ke satu sisi secara prematur, yang bisa berisiko mengikis kepercayaan dari pihak lain.

Efriza menilai bahwa Bahlil sadar betul risiko tersebut. Komitmen yang terlalu dini terhadap suatu kubu untuk Pilpres 2029 berpotensi ditafsirkan sebagai bentuk loyalitas yang tidak tepat, yang justru dapat merugikan posisi tawar partai di pemerintahan sekarang.

“Bahlil tampak enggan terjebak pada sikap dukung-mendukung Pilpres yang masih jauh. Ia khawatir langkah tersebut justru memunculkan persepsi negatif, seolah lebih loyal kepada Jokowi dibandingkan Prabowo,” pungkasnya.

Dengan demikian, sikap "main aman" yang ditunjukkan Golkar bukanlah bentuk kevakuman politik, melainkan sebuah strategi bertahan yang dihitung matang. Partai berlambang pohon beringin itu tampaknya memilih untuk memperkuat pondasi internal dan posisinya dalam koalisi pemerintahan saat ini, sembari membiarkan peta kontestasi 2029 terbentuk lebih jelas terlebih dahulu.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar