PARADAPOS.COM - Rupiah menutup perdagangan Jumat (13/2/2026) dengan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat, bergerak seiring dengan tekanan yang lebih luas di pasar mata uang Asia. Pelemahan terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS, didorong oleh sentimen hati-hati investor yang menunggu rilis data inflasi kunci dari AS serta proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik.
Sentimen Global Tekan Rupiah dan Mata Uang Asia
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,05% ke level Rp16.836 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore. Pergerakan ini berlangsung saat indeks dolar AS, alat ukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, justru menguat 0,14% ke posisi 97,05. Tekanan tidak hanya dirasakan rupiah. Mayoritas mata uang kawasan juga tercatat terdepresiasi, dengan pelemahan signifikan terjadi pada yen Jepang (-0,49%) dan won Korea Selatan (-0,39%). Hanya dolar Hong Kong dan peso Filipina yang mencatatkan penguatan tipis.
Pengamat forex Ibrahim Assuaibi menjelaskan, penguatan dolar AS hari ini dipicu oleh sentimen dari luar negeri. Ketidakpastian mengenai waktu dan besaran pemotongan suku bunga The Fed menjadi beban utama, terutama setelah data ketenagakerjaan AS pekan lalu menunjukkan ketahanan yang tak terduga.
"Tetapi rilis data Januari secara konsisten mengejutkan dengan angka yang lebih tinggi selama 4 tahun terakhir, membuat pasar waspada terhadap angka yang cenderung agresif," ungkapnya dalam keterangan tertulis.
Fokus Pasar Beralih ke Data Inflasi AS
Pandangan Assuaibi tersebut menggarisbawahi fokus utama pelaku pasar saat ini: rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Januari. Data yang dijadwalkan terbit pada Jumat waktu setempat itu dinilai krusial untuk memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS. Meski secara luas pasar memprediksi inflasi akan melandai, catatan historis beberapa tahun terakhir membuat investor bersikap lebih berhati-hati.
Dari dalam negeri, analisis juga menyoroti proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan berada di kisaran 5% pada 2026. Dalam konteks ini, pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia berpotensi untuk berlanjut, seiring dengan tren inflasi global yang mereda dan sikap akomodatif bank sentral global.
Prospek Jangka Menengah dan Peringatan untuk Senin
Meski diwarnai kekhawatiran atas daya tahan konsumsi rumah tangga dan realisasi investasi, fundamental ekonomi Indonesia dalam jangka menengah dinilai tetap solid. Analis melihat peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan kebutuhan global akan kapasitas produksi dan pasokan baru, yang dapat mendorong pertumbuhan lebih baik di tahun-tahun mendatang.
Namun, untuk perdagangan sesi mendatang, pasar valuta asing masih diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan bias pelemahan. Ibrahim Assuaibi memberikan proyeksi level trading untuk pembukaan pekan depan.
"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif tetapi ditutup melemah di rentang Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS," tuturnya.
Artikel Terkait
Pemerintah Rencanakan Pembangunan 10 Universitas dan Lembaga Administrasi untuk Regenerasi Birokrasi
Tiket Akhir Pekan IIMS 2026 Dijual Rp90.000, Pameran Tutup 15 Februari
Mensos Minta Wali Kota Denpasar Cabut Pernyataan Soal Penonaktifan PBI BPJS
Presiden Prabowo Klaim Program Makan Bergizi Gratis Capai 60,2 Juta Porsi Sehari