PARADAPOS.COM - Kementerian Perdagangan melaporkan kemajuan signifikan dalam pemulihan ekonomi pasca-bencana di sejumlah wilayah Sumatra. Hingga pertengahan Februari 2026, sebanyak 91,75 persen pasar rakyat yang terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah kembali beroperasi. Pemulihan ini menjadi indikator penting bangkitnya denyut perekonomian lokal yang sempat terhenti.
Pasar Rakyat sebagai Prioritas Pemulihan
Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan peran sentral pasar tradisional dalam pemulihan ekonomi. Pernyataan itu disampaikannya dalam rapat koordinasi di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Rabu (18/2/2026). Fokus pemerintah adalah memastikan reaktivasi pusat perbelanjaan rakyat itu berjalan dengan cepat dan menyeluruh.
"Pasar rakyat adalah kunci pemulihan ekonomi lokal. Kami memastikan reaktivasi pasar berjalan cepat, terukur, dan menyeluruh," tegas Budi Santoso.
Data yang dihimpun menunjukkan skala kerusakan yang cukup luas. Terdapat 194 pasar rakyat dan 18.065 pedagang yang terdampak. Dari jumlah itu, 95 unit pasar mengalami kerusakan ringan, 41 unit rusak sedang, dan 58 unit lainnya rusak berat. Dengan upaya yang dilakukan, 178 pasar di antaranya kini sudah bisa kembali melayani masyarakat.
Pemulihan Sektor Ritel Modern
Di luar pasar tradisional, sektor ritel modern juga menunjukkan tren pemulihan yang menggembirakan. Kolaborasi antara Kemendag dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mencatat bahwa 96 persen dari 383 gerai toko swalayan yang terdampak telah beroperasi normal.
Menteri Budi Santoso memberikan target waktu yang jelas untuk penyelesaian penuh. "Sekitar 96% atau 368 gerai telah kembali beroperasi normal. Seluruh gerai ditargetkan pulih sepenuhnya pada akhir Februari 2026," jelasnya.
Meski demikian, tantangan masih tersisa, terutama di beberapa wilayah Aceh di mana proses rehabilitasi infrastruktur pasar masih berlangsung.
Update Kondisi Korban dan Pengungsi
Sementara fokus pada pemulihan ekonomi, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian juga memberikan update terbaru mengenai kondisi korban bencana. Data terakhir menyebutkan 139 orang masih dalam status hilang.
Namun, ada kabar baik dari sisi penanganan pengungsi. Jumlah warga yang mengungsi telah menurun drastis dari sekitar 2 juta orang menjadi 12.994 orang. Penurunan ini terjadi setelah banyak warga berpindah ke hunian sementara, mendapat bantuan dana tunggu hunian untuk mengontrak, atau tinggal bersama keluarga terdekat.
Mendagri Tito Karnavian merinci, "Yang [korban] meninggal dunia 1.205 orang, dan yang hilang 139 orang, dan pengungsi dari 2 juta lebih sekarang lebih kurang 12.994 di tenda."
Laporan ini menunjukkan bahwa meski proses pemulihan pasca-bencana masih berjalan, terutama untuk korban jiwa dan infrastruktur berat, geliat ekonomi di tingkat akar rumput dan ritel sudah mulai menguat kembali.
Artikel Terkait
Korlantas Tinjau Kesiapan Tol Bocimi untuk Antisipasi Macet Arus Mudik Lebaran
Kemenhub Berlakukan Larangan Operasional Truk Besar Selama Mudik Lebaran 2026
Kedubes Arab Saudi Salurkan 2.000 Paket Buka Puasa di Istiqlal
Pemerintah Luncurkan Groundcheck Nasional untuk Verifikasi Data 11 Juta Penerima PBI JKN