PARADAPOS.COM - Iran secara resmi menyampaikan peringatan keras kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa negara itu akan menargetkan pangkalan militer asing di kawasannya jika menghadapi agresi militer. Peringatan tertulis yang dikirim ke Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis, 19 Februari 2026, itu merupakan respons atas retorika ancaman dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah yang semakin masif.
Surat Diplomatik dan Ancaman yang Mengkristal
Dalam suratnya, misi diplomatik Iran di PBB menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan Presiden Trump dinilai menunjukkan "risiko nyata agresi militer." Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa mereka tidak menginginkan perang. Surat itu dengan jelas menyampaikan bahwa Iran akan membalas "secara tegas" terhadap setiap serangan militer yang ditujukan kepada mereka.
Peringatan diplomatik ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia langsung terkait dengan ultimatum yang diutarakan Trump dalam sebuah pertemuan di Washington. "Tidak mudah mencapai kesepakatan bermakna dengan Iran. Kita harus mencapainya, jika tidak, hal buruk akan terjadi," ucap mantan presiden AS itu. Trump memberi waktu 10 hingga 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dalam perundingan nuklir, dengan ancaman akan "melangkah lebih jauh" jika negosiasi gagal.
Eskalasi Militer di Laut dan Udara
Ketegangan ini memuncak hanya beberapa hari setelah putaran kedua perundingan antara Iran dan AS yang dimediasi Oman usai digelar di Jenewa. Alih-alih mereda, situasi justru memanas dengan pengerahan kekuatan militer yang nyata. Amerika Serikat dilaporkan memperkuat kehadiran militernya di sekitar Iran, termasuk dengan mengerahkan kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar.
Yang paling mengkhawatirkan adalah pengerahan kapal induk kedua AS ke kawasan. Kapal induk USS Abraham Lincoln, yang membawa sekitar 80 pesawat tempur, dikabarkan telah berada pada posisi sekitar 700 kilometer dari perairan Iran. Pergerakan armada ini dipandang sebagai sinyal kekuatan yang tidak bisa diabaikan.
Respons Iran dan Titik Genting Selat Hormuz
Iran tidak tinggal diam. Menanggapi pengerahan militer AS, Korps Garda Revolusi Islam menggelar latihan perang di perairan strategis Selat Hormuz. Jalur sempit ini merupakan urat nadi perdagangan energi global, di mana sekitar seperempat minyak dunia dan seperlima pasokan gas alam cair melintas setiap harinya.
Para analis keamanan internasional kerap mengingatkan bahwa ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz akan menjadi skenario terburuk yang berdampak global. Kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka antara kedua negara telah langsung berimbas pada pasar komoditas, mendorong kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir. Ketegangan ini semakin kompleks dengan peringatan terpisah dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang juga mengancam respons besar terhadap Iran, menambah dimensi baru dalam krisis yang sudah rumit ini.
Artikel Terkait
Tabrakan Truk Ganggu Layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta
Hujan Deras di Jakarta, Transjakarta Hentikan dan Alihkan Sejumlah Rute
Wall Street Turun Tertekan Ketegangan AS-Iran dan Data Ekonomi Campuran
Jellyfish Entertainment dalam Pembicaraan Perpanjangan Kontrak dengan Kim Se-jeong