Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Dolar Melemah dan Harga Emas Melonjak

- Jumat, 20 Februari 2026 | 20:25 WIB
Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Dolar Melemah dan Harga Emas Melonjak

PARADAPOS.COM - Harga emas dunia mengalami penguatan signifikan pada akhir pekan lalu, didorong oleh pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Pelemahan mata uang AS itu sendiri dipicu oleh keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan sebagian besar kebijakan tarif global era Presiden Donald Trump. Keputusan bersejarah ini langsung memicu spekulasi di pasar keuangan mengenai dampak fiskal dan prospek kebijakan moneter Negeri Paman Sam ke depan.

Dolar Melemah, Emas Melonjak

Berdasarkan laporan Bloomberg pada Sabtu, 21 Februari 2026, dolar AS tercatat melemah hingga 0,3% terhadap sekeranjang mata uang utama. Pelemahan ini menjadi angin segar bagi harga emas, yang melonjak hingga 1,6%. Hubungan terbalik antara dolar dan logam mulia kembali terkonfirmasi. Sebagai aset yang diperdagangkan secara global dalam denominasi dolar, emas menjadi lebih murah dan menarik bagi investor yang memegang mata uang lain ketika nilai greenback turun.

Latar belakangnya adalah putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan bahwa mantan Presiden Trump melampaui kewenangannya dengan menggunakan undang-undang kekuasaan darurat untuk memberlakukan tarif resiprokal secara luas. Putusan tersebut secara efektif membatalkan sebagian besar skema tarif yang telah diterapkan sejak tahun lalu.

Analisis Ahli: Implikasi Fiskal dan Peluang bagi Emas

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy, memberikan analisis mendalam mengenai implikasi putusan tersebut. Ia memperingatkan bahwa keputusan MA berpotensi membebani posisi fiskal pemerintah AS. Departemen Keuangan AS kemungkinan akan diwajibkan untuk mengembalikan sebagian bea masuk yang telah dibayar importir, sekaligus kehilangan aliran pendapatan dari tarif tersebut di masa depan.

"Kondisi ini dapat menekan anggaran dan meningkatkan spekulasi bahwa instrumen moneter mungkin perlu digunakan untuk membiayai pemerintah," tutur Melek.

Menurutnya, skenario ini justru menjadi katalis positif bagi emas. Tekanan fiskal dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada level rendah dalam waktu yang lebih lama. Sejarah pasar menunjukkan bahwa emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, cenderung bersinar dalam lingkungan suku bunga rendah.

"Situasi ini positif bagi emas," tegas Melek.

Proses Hukum yang Panjang dan Berliku

Di sisi lain, analis lain mengingatkan bahwa dampak penuh dari putusan ini belum akan terasa dalam waktu dekat. Ben McMillan dari IDX Advisors menilai pasar mulai menyadari bahwa sengketa hukum terkait tarif ini baru saja dimulai dan berpotensi berlarut-larut. Mahkamah Agung AS tidak memberikan kejelasan rinci mengenai mekanisme pengembalian dana tarif, menyerahkan masalah kompleks itu kepada pengadilan-pengadilan tingkat bawah untuk diselesaikan.

"Pasar menyadari ini akan menjadi pertarungan hukum yang sangat rumit selama bertahun-tahun. Artinya akan ada banyak gugatan individual," jelas McMillan.

Dengan demikian, volatilitas yang tercipta dari ketidakpastian hukum dan prospek kebijakan moneter yang longgar diperkirakan akan terus menjadi faktor pendukung bagi harga emas dalam jangka menengah. Pasar kini mengamati dengan cermat setiap perkembangan dari proses hukum dan respons otoritas fiskal AS terhadap keputusan penting ini.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar