Indonesia dan AS Sepakati Pembelian Energi USD15 Miliar, Diversifikasi Sumber Impor BBM

- Jumat, 20 Februari 2026 | 22:25 WIB
Indonesia dan AS Sepakati Pembelian Energi USD15 Miliar, Diversifikasi Sumber Impor BBM

PARADAPOS.COM - Indonesia dan Amerika Serikat telah menyepakati perjanjian perdagangan timbal balik yang mencakup komitmen pembelian energi senilai USD15 miliar dari AS. Kesepakatan yang diteken oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump ini bertujuan menyeimbangkan neraca perdagangan dengan mengalihkan sumber impor minyak dan gas dari beberapa negara lain ke Amerika Serikat. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memaparkan detail teknis implementasi di sektor energi dari kesepakatan bersejarah tersebut.

Alokasi Dana dan Pergeseran Sumber Impor

Dalam konferensi pers di Washington DC pada Jumat, 20 Februari 2026, Menteri Bahlil Lahadalia merinci penggunaan anggaran USD15 miliar atau setara Rp252 triliun. Dana tersebut dialokasikan khusus untuk membeli bahan bakar minyak jadi, LPG, dan minyak mentah dari pasar Amerika.

Bahlil dengan tegas menekankan bahwa komitmen ini bukanlah penambahan volume impor baru, melainkan strategi diversifikasi sumber.

"USD15 miliar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor. Namun kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara. Di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East maupun beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan neraca komoditas daripada pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama. Cuma kemudian kita geser," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa eksekusi pembelian akan dilakukan setelah proses finalisasi yang ditargetkan selesai dalam 90 hari ke depan.

Mekanisme Tender Terbuka dan Peningkatan Kuota

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menegaskan bahwa proses impor akan mengikuti mekanisme bisnis yang berlaku dan penuh kehati-hatian. Menurutnya, tidak akan ada penunjukan langsung kepada pemasok tertentu.

"Teknis yang kami lakukan ini adalah bisnis as usual, jadi sudah seperti yang kami jalankan selama ini. Proses ini akan melalui mekanisme tender dan bidding. Jadi tidak ada penunjukan langsung tetapi seperti biasa mekanisme tender dan bidding yang tentunya terbuka," tutur Simon.

Dia mengungkapkan, porsi impor LPG dari AS yang saat ini sekitar 57% diproyeksikan dapat meningkat hingga 70% berkat kesepakatan ini. Selain LPG, pembelian minyak mentah juga akan ditingkatkan, sementara produk energi lainnya masih dalam tahap penjajakan dengan mitra di AS. Skema ini, lanjutnya, menjadi jembatan strategis untuk menjaga stabilitas energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi minyak dan gas dalam negeri.

Dampak Lebih Luas dan Insentif Tarif

Kesepakatan dagang ini juga membuka jalan bagi program mandatori pencampuran etanol dalam bensin yang rencananya mulai diterapkan pada 2028. Bahlil menyebutkan, kekurangan pasokan etanol untuk memenuhi target pencampuran 5-10% berpotensi dipenuhi melalui impor dari Amerika Serikat.

Ia menegaskan komitmen nilai pembelian yang telah disepakati. "Volumenya untuk Amerika kita harus belanja USD15 miliar, itu sudah final. Switch-nya dari mana-mana itu tiga minggu dari sekarang," ujarnya. Langkah ini, menurut Bahlil, dibangun untuk menciptakan kepercayaan dan memastikan hubungan dagang yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Dari sisi insentif, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan kemudahan tarif yang disepakati. Tarif umum dalam perjanjian ini berhasil diturunkan menjadi 19% dari sebelumnya 32%. Lebih lanjut, sebanyak 1.819 produk unggulan Indonesia di bidang pertanian dan industri akan mendapat akses bebas bea masuk dengan tarif 0% ke pasar Amerika Serikat, memberikan angin segar bagi eksportir domestik.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar