Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran Masuki Hari Ketiga, Masing-Masing Pihak Tentukan Syarat Akhir Perang

- Rabu, 04 Maret 2026 | 11:50 WIB
Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran Masuki Hari Ketiga, Masing-Masing Pihak Tentukan Syarat Akhir Perang

PARADAPOS.COM - Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memasuki hari ketiga, mengubah dinamika ketegangan menjadi konflik regional yang lebih luas. Serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu balasan Teheran terhadap sejumlah negara sekutu Washington di kawasan. Eskalasi terus berlanjut dengan keterlibatan pihak lain, seperti Inggris yang mengizinkan penggunaan pangkalan militernya di Siprus. Dalam situasi yang masih sangat cair ini, sulit memprediksi akhir dari pertikaian. Namun, masing-masing pihak yang bertikai telah menyuarakan visi dan syarat mereka untuk mengakhiri pertempuran.

Visi Kemenangan ala Trump: Penghancuran dan Perubahan Rezim

Sejak awal operasi militer diluncurkan, Presiden AS Donald Trump telah dengan gamblang mendefinisikan apa yang ia anggap sebagai kemenangan. Dalam pesan video yang direkam dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, ia menyampaikan serangkaian tujuan yang ambisius.

"Kami akan menghancurkan rudal-rudal mereka dan meratakan industri rudal mereka hingga rata dengan tanah. Sekali lagi, dihancurkan sepenuhnya," tegas Trump. "Kami akan menghancurkan angkatan laut mereka. Kami akan memastikan bahwa proksi teroris di kawasan tersebut tidak lagi dapat mengganggu stabilitas kawasan bahkan stabilitas dunia, tidak bisa juga menyerang pasukan kami, dan tidak lagi menggunakan IED atau bom pinggir jalan yang menyebabkan luka parah dan kematian ribuan orang, termasuk banyak warga Amerika."

Fokus Trump pada penghancuran kemampuan rudal Iran—sebuah klaim yang kerap ia ulang meski tidak selalu selaras dengan penilaian intelijen AS—menjadi fondasi dari definisi kemenangannya. Penampilannya yang santai dengan kemeja berkerah terbuka dan topi bisbol, berbeda dari keseriusan pidato di Ruang Oval yang biasa dilakukan presiden sebelumnya, turut menandai gaya kepemimpinannya yang tak konvensional dalam momen kritis.

Lebih jauh, Trump tidak hanya berhenti pada kehancuran militer. Ia secara terbuka mengajak rakyat Iran untuk memberontak, sebuah langkah yang dianggapnya sebagai kesempatan sejarah.

"Ketika kami selesai, ambil alih pemerintah kalian. Itu akan menjadi milik kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam puluhan tahun ini," ujarnya. "Selama bertahun-tahun, kalian telah meminta bantuan Amerika Serikat, tetapi kalian tidak pernah mendapatkannya. Tidak ada presiden yang bersedia melakukan seperti yang saya lakukan malam ini. Sekarang kalian memiliki presiden yang memberikan apa yang kalian inginkan. Jadi mari kita lihat bagaimana respons kalian."

Seruan ini, meski terdengar mendukung demokratisasi, juga dipandang sebagai taktik untuk mengalihkan tanggung jawab jika rezim Iran ternyata tetap bertahan. Secara historis, menggulingkan sebuah rezim yang mapan hanya lewat serangan udara tanpa invasi darat merupakan tugas yang hampir mustahil, sebagaimana terlihat dalam kasus Irak dan Libya.

Kalkulasi Netanyahu: Menetralisir Ancaman Eksistensial

Di pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memiliki hitungan politik dan keamanan yang tidak kalah kompleks. Bagi Netanyahu yang telah puluhan tahun memandang Iran sebagai ancaman eksistensial terbesar Israel, konflik ini adalah peluang untuk melumpuhkan kemampuan militer dan pengaruh regional Teheran secara permanen.

Berdiri di atap sebuah gedung di Tel Aviv, Netanyahu dengan penuh keyakinan menyampaikan visinya tentang akhir perang.

"Israel dan AS bersama-sama akan mampu 'melakukan apa yang telah ingin dicapai selama 40 tahun, yaitu menghancurkan rezim teror secara total'," tuturnya. Ia menegaskan komitmen untuk mewujudkan janji itu menjadi kenyataan.

Namun, di balik retorika keras tersebut, ada dimensi politik dalam negeri yang mendesak. Netanyahu yang menghadapi pemilu pada akhir tahun berada dalam posisi rentan akibat kritik atas kegagalan keamanan pada 7 Oktober 2023. Sebuah kemenangan telak atas Iran, atau setidaknya gambaran akan hal itu, dapat menjadi penebus dosa politik dan mengamankan posisinya. Ambisi pribadinya untuk bertahan berkuasa tak terpisahkan dari tujuan strategis negara yang ia pimpin.

Ketahanan Rezim Iran: Runtuh atau Justru Menguat?

Di sisi lain, pertanyaan kritis adalah apakah rezim Iran akan runtuh di bawah pukulan militer ini. Kematian Ayatollah Khamenei memang merupakan pukulan telak, tetapi sistem Republik Islam dirancang sejak awal oleh pendirinya, Ayatollah Khomeini, untuk bertahan dari guncangan semacam ini. Berbeda dengan rezim dinasti seperti di Suriah atau Libya yang bergantung pada satu keluarga, Iran dibangun atas jaringan institusi politik, militer, dan agama yang kompleks dan saling menguatkan.

Kekuatan utama penopang rezim adalah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Lebih dari sekadar angkatan bersenjata, IRGC yang memiliki sekitar 190.000 personel aktif dan 600.000 cadangan adalah tulang punggung ideologis dan ekonomi negara. Mereka memiliki mandat eksplisit untuk melindungi prinsip "velayat-e faqih" (perwalian ahli hukum) dan mengendalikan sektor ekonomi strategis. Didukung oleh pasukan paramiliter Basij yang fanatik, aparatus keamanan Iran terbukti tangguh dalam menekan gelombang protes dalam negeri.

Loyalitas ini diperkuat oleh narasi mati syahid dalam tradisi Syiah. Setelah kematian Khamenei, televisi negara menyebutnya telah "meneguk minuman manis dan murni syahid". Ribuan pendukungnya membanjiri jalanan Teheran dengan lilin dan senter ponsel, sebuah gambaran yang menunjukkan bahwa serangan luar justru dapat memantapkan dukungan dari basis loyalis rezim. Ancaman Trump untuk menghancurkan IRGC justru kecil kemungkinan membuat mereka menyerah; bisa jadi malah mengeraskan perlawanan.

Preseden Kelam dan Taruhan yang Berisiko Tinggi

Meski AS dan Israel percaya pada keunggulan militer mereka, preseden dari intervensi serupa di kawasan ini tidaklah menggembirakan. Penggulingan Saddam Hussein di Irak pada 2003 justru melahirkan kekacauan berkepanjangan dan bangkitnya ekstremisme. Libya, yang diintervensi pada 2011, hingga kini masih menjadi negara gagal yang terpecah-belah. Barat yang awalnya merayakan kejatuhan Gaddafi, kemudian menarik diri dan meninggalkan kekacauan yang tak terselesaikan.

Iran adalah negara yang jauh lebih besar, kompleks, dan padat penduduk dibandingkan Irak atau Libya. Keruntuhan rezim yang dipaksakan dari luar berisiko memicu perang saudara dan fragmentasi yang bisa menewaskan ratusan ribu jiwa, mirip dengan tragedi di Suriah. Taruhan Trump bahwa perang ini akan menciptakan Timur Tengah yang lebih aman adalah sebuah lompatan iman yang sangat berisiko.

Pada hari ketiga konflik, jalan menuju perdamaian masih gelap. Aksi militer mungkin dapat melumpuhkan kapasitas ofensif Iran untuk sementara, tetapi menggantikan rezim yang runtuh dengan tatanan yang stabil dan damai adalah tantangan raksasa yang belum terjawab. Yang jelas, gelombang efek dari konflik ini telah meluas jauh melampaui perbatasan ketiga negara, menggetarkan kawasan dan menyedot perhatian dunia akan potensi konsekuensi yang lebih dahsyat.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar