PARADAPOS.COM - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, secara tegas menolak kemungkinan negosiasi dengan Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan di tengah tawaran fasilitasi dialog dari Indonesia, menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran akhir Februari 2026. Dubes Boroujerdi beralasan, pengalaman diplomasi yang berujung pada pelanggaran kesepakatan dan serangan militer telah menghilangkan kepercayaan Teheran terhadap proses perundingan.
Penolakan Tegas dan Alasan Dibaliknya
Dalam pertemuan dengan jurnalis di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026), diplomat senior itu menyampaikan posisi negaranya dengan lugas. Suasana pernyataannya mencerminkan kekecewaan mendalam yang berakar dari sejarah panjang negosiasi yang dianggap gagal.
“Kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum-kaum musuh dari kami,” tegas Boroujerdi.
Luka Lama dari Kesepakatan Nuklir yang Dilanggar
Boroujerdi kemudian menjabarkan alasan utama sikap keras Teheran, dengan menyoroti nasib Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA). Perjanjian yang dulu dianggap sebagai pencapaian diplomasi internasional itu, dinilainya telah dikhianati oleh pihak Amerika.
“Yang pertama adalah negosiasi untuk nuklir Iran. Kesepakatan yang bernama JCPOA telah dicapai, tetapi Amerika Serikat melanggar kesepakatan tersebut dan keluar secara sepihak,” ujarnya merujuk pada keputusan administrasi Trump.
Pola Pengkhianatan yang Berulang
Lebih dari sekadar satu insiden, Dubes tersebut menyebutkan adanya pola yang berulang. Ia mengklaim bahwa Iran telah terlibat dalam lima kali negosiasi dengan pihak yang sama, namun setiap proses dialog justru diikuti dengan aksi militer terhadap kepentingan Iran. Dua putaran terbaru, menurutnya, juga berakhir dengan eskalasi yang sama.
Pengalaman pahit inilah yang membentuk persepsi Iran bahwa tidak ada jaminan kesepakatan diplomatik akan dihormati. Dalam kondisi seperti ini, jalan perundingan dianggap tidak lagi viable.
“Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apa pun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran,” tuturnya dengan nada penuh keyakinan.
Konteks Upaya Mediasi Internasional
Penolakan Iran ini muncul di saat beberapa negara mencoba menggalang upaya mediasi. Sebelumnya, pemerintah Tiongkok juga telah menyatakan kesiapannya untuk terlibat lebih dalam. Menteri Luar Negeri Wang Yi, dalam percakapan telepon dengan rekannya dari Arab Saudi, menyatakan Beijing akan mengirim utusan khusus ke kawasan Timur Tengah, seperti dilaporkan oleh Xinhua News Agency.
Namun, berdasarkan penjelasan Dubes Boroujerdi, langkah-langkah mediasi semacam itu tampaknya akan menemui jalan buntu jika masih melibatkan atau bertujuan mendekatkan posisi Iran dengan Amerika Serikat. Posisi Teheran, setidaknya untuk saat ini, terlihat sangat kaku dan didasari oleh trauma historis yang mendalam.
Artikel Terkait
Pemkab Situbondo Buka Posko Pengaduan untuk Pemulangan PMI Terdampak Konflik Timur Tengah
Buya Yahya Ajak Umat Doakan Presiden Prabowo di Ramadan
Volvo ES90 Resmi Meluncur di Indonesia, Harga Rp 2,1 Miliar
Pemerintah Izinkan Badung Gunakan Insinerator untuk Sampah Kayu Kiriman Laut