Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Ulama dan Ormas Bahas Geopolitik dan Ekonomi

- Kamis, 05 Maret 2026 | 18:50 WIB
Prabowo Gelar Pertemuan Tertutup dengan Ulama dan Ormas Bahas Geopolitik dan Ekonomi

PARADAPOS.COM - Presiden Prabowo Subianto mengajak para pimpinan utama organisasi Islam dan ulama untuk bersatu dalam menyikapi dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks. Ajakan ini disampaikan dalam pertemuan tertutup yang berlangsung selama hampir tujuh jam di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (5/3) sore hingga malam, yang juga diisi dengan buka puasa bersama.

Diskusi Intensif di Balik Pintu Tertutup Istana

Pertemuan yang digelar dalam dua sesi tersebut dihadiri oleh sejumlah menteri dan pimpinan lembaga tinggi negara. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, yang hadir dalam acara itu, menyebut diskusi berfokus pada analisis mendalam mengenai kondisi geopolitik global dan tantangan ekonomi nasional.

Nusron menjelaskan, "Jadi, tadi dari jam 4 (sore), sampai buka puasa, Bapak Presiden didampingi oleh Pak Mensesneg (Prasetyo Hadi), sama Pak Menko Pangan (Zulkifli Hasan), sama Pak Ketua MPR (Ahmad Muzani) melakukan diskusi intensif dengan tiga tokoh ulama dan tokoh Islam di Indonesia."

Menjalin Sinergi dengan Pilar Utama Umat

Sesi pertama pertemuan secara khusus menghadirkan tiga tokoh sentral: Rais Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, serta Ketua Umum MUI K.H. Anwar Iskandar. Kehadiran mereka menandai pentingnya konsultasi dengan pimpinan organisasi Islam terbesar di tanah air.

Setelah itu, suasana dilanjutkan dengan sesi kedua yang lebih luas, menjangkau pimpinan ormas Islam, tokoh agama, serta sejumlah pengasuh pondok pesantren ternama dari berbagai daerah. Tak kurang dari 86 pimpinan ormas hadir, bersama perwakilan dari pesantren besar seperti Gontor, Ploso, Tebuireng, Lirboyo, Darunnajah, dan Al-Bahjah.

Paparan Presiden: Dari Timur Tengah Hingga Daya Saing Ekspor

Dalam forum itu, Presiden Prabowo secara rinci memaparkan perkembangan terkini geopolitik dan geoekonomi dunia, dengan sorotan khusus pada ketegangan di kawasan Timur Tengah. Tidak hanya situasi global, kondisi ekonomi dan sosial dalam negeri serta langkah antisipasi pemerintah terhadap potensi guncangan, seperti krisis pangan dan energi, juga menjadi bahan pembahasan.

Salah satu poin kebijakan yang dijelaskan adalah mengenai hubungan perdagangan dengan Amerika Serikat, termasuk kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART). Menurut penjelasan yang diterima, langkah ini strategis untuk melindungi daya saing produk Indonesia dan menghindari bea masuk yang memberatkan.

Komitmen Bersama dan Langkah Diplomasi

Pertemuan yang hangat dan penuh keakraban itu akhirnya menghasilkan titik temu. Para ulama dan pimpinan ormas sepakat untuk memperkuat komunikasi dengan pemerintah dan mendukung upaya menjaga stabilitas nasional serta mendorong perdamaian dunia.

Nusron Wahid mengungkapkan, "Kemudian mengambil satu kesimpulan, berharap kepada pimpinan ormas, tokoh-tokoh Islam ini bersama dengan Bapak Presiden dalam satu barisan."

Lebih jauh, disebutkan bahwa Presiden tengah menginisiasi langkah diplomasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah, termasuk membuka kanal komunikasi dengan Iran. Upaya ini diklaim telah mendapat dukungan positif dari sejumlah negara di kawasan, seperti Pakistan dan Uni Emirat Arab, menandai peran aktif Indonesia di panggung diplomasi global.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar